oleh

Tiga Kriteria Kembalikan Citra Ende Sebagai Kota Pelajar

-News, NTT, Pendidikan-167 views

“Kembalikan citra Ende sebagai kota pelajar. Bukan karena di Ende banyak sekolah dan lembaga pendidikan tinggi, tetapi….”

BINTANGFLOBAMORA.Com, Ende – Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai salah satu dari 10 kabupaten di Indonesia untuk mencanangkan program Gerakan Indonesia Membaca (GIM).

Pencanangan tersebut resmi dilakukan pada, Sabtu (16/10/2021) di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Ende.

Sedikitnya terdapat tiga alasan mengapa Kabupaten Ende dipilih oleh Kemendikbudristek sebagai kabupaten pelaksana GIM. Hal itu terkuak dalam diskusi di Siaran Pendidikan Lintas Ende Malam yang disiarkan Radio Republik Indonesia (RRI) Pro Satu Ende (Kamis/21/10/2021).

Acara yang dipresenteri oleh Caroline Woda Mosa, menghadarkan narasumber Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Provinsi NTT, Polikarpus Do. Tokoh literasi yang karib dipanggil Poli tersebut secara gamblang mengungkapkan alasan terpilihnya Ende sebagai satu-satunya kabupaten di NTT yang dipercayakan melaksanakan program GIM.

Menurutnya, Kabupaten Ende telah memenuhi beberapa kriteria, pertama, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Ende khususnya Disdikbud sangat responsif dan giat melaksanakan kegiatan literasi. Kedua, minimal mempunyai 10 TBM dan Ende sudah melebihi kriteria minimal. Dan ketiga, adanya pegiat literasi yang aktif dan masif menggerakan literasi minimal dua tahun terakhir.

Baca Juga:  Dikukuhkan Sebagai Bunda Baca, Bupati Rote Ndao Ingatkan Peran Ibu Dalam Keluarga

Poli menjelaskan, sebelum pencanangan GIM di Ende, Disdikbud bersama semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan penggiat literasi telah menyusun rencana induk aksi daerah untuk tahun 2021-2025 yang didalamnya memuat peta jalan literasi di Kabupaten Ende.

Isi dari rencana induk aksi daerah tersebut antara lain pendirian minimal satu TBM di satu Desa, pendirian minimal satu kampung literasi di satu Kecamatan serta pelibatan semua sektor untuk menjadikan literasi sebagai gerakan bersama dan jalan untuk meningkatkan sumber daya manusia.

Miniatur Indonesia dan Kota Pelajar

Poli menjabarkan substansi dari GIM adalah bagaimana upaya pemerintah bersama semua penggerak literasi mensosialisasi dan menggerakan literasi masyarakat dengan melibatkan semua stakeholder, para pegiat literasi, pemerhati dan praktisi pendidikan.

“Ende adalah miniatur Indonesia, maka budaya literasi harus terbangun di bumi Pancasila. Kita kembalikan citra Ende sebagai kota pelajar. Bukan karena di Ende banyak sekolah dan lembaga pendidikan tinggi, tetapi karena Ende memiliki masyarakat yang literat,” katanya.

Lebih lanjut Poli menjelaskan, masyarakat yang literat harus memiliki tiga aspek yakni pertama, memiliki kecakapan minimal enam literasi dasar (membaca dan menulis, numerasi, sains, finansial, digital, budaya dan kewargaan). Kedua, memiliki empat kompetensi yaitu berpikir kritis, kreatif, komunakatif dan kolaboratif. Dan ketiga, kualitas karakter yang baik.

Baca Juga:  FTBM NTT Gagas Gerakan Sejuta Buku dan Festival Literasi Perbatasan

“Literasi menjadi fondasi untuk memiliki kompetensi dan karakter yang kuat sesuai dengan budaya bangsa Indonesia,” ucapnya lagi.

Optimis GIM di Ende Berjalan

Ia optimis program GIM dan semua agenda yang ada dalam rencana induk aksi daerah bisa berjalan baik. Syaratnya, harus ada komitmen bersama. Menurutnya, kerja-kerja literasi adalah aksi dan kolaborasi bukan sebatas narasi.

“Membangun generasi emas 2045, tergantung dari langkah yang kita bangun hari ini. Tidak susah kalau semua komponen bekerja sama.”

Poli mencontohkan, pegiat literasi bergerak di lapangan, Pemda menyiapkan anggaran literasi, Lembaga legislatif  menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) literasi atau regulasi yang mendukung literasi.

“Apa arti kerja pegiat litarsi tanpa payung hukum dan dukungan politik. Di tingkat provinsi, kita sudah mendorong teman-teman di DPRD Provinsi menyusun Perda literasi danb sudah ada saat ini. Kita juga mendorong teman-teman di daerah melakukan hal yang sama,” ucapnya.

Ia berharap, rencana induk yang disusun dapat diimplementasikan dengan baik untuk mengembalikan Ende sebagai kota pelajar dan menjadikan Ende sebagai kabupaten literasi. Untuk memperkuat literasi, akses baca harus dibuka hingga ke desa dan kampung.

Baca Juga:  FTBM Ende Gandeng YASPORA NTT Gelar Webinar HAN 2021

“Mimpi kita satu desa satu TBM, satu kecamatan satu kampung literasi, penguatan literasi keluarga, sekolah dan masyarakat harus terwudud agar Kabupaten Ende menjadi kabupaten literasi dan citra kota pelajar dengan bangga kita gaungkan kembali,” tuturnya.

Tidak Sepakat Budaya Literasi NTT Dikatakan Rendah

Polikarpus menyatakan tidak sepakat jika NTT dikatakan memiliki budaya literasi yang rendah.

“Saya tidak sepakat. Sebenarnya harus dicari tahu dulu penyebab utama. Yang sebenarnya terjadi di NTT adalah , minimnya aksesibilitas. Pendidikan terbatas, taman bacaan terbatas, bahan bacaan terbatas. NTT kesulitasn akses layanan baca, kesulitan bahan bacaan berkualitas. Sebenarnya minat baca tinggi, tetapi bahan bacaan berkualitas tidak tersedia, TBM sedikit dan Perpustakaan Desa tidak berjalan,” katanya.

“Bahan bacaan yang berkualitas adalah bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, di daerah pertanian, tersedia referensi tentang strategi produksi pertanian, pemanfaatan lahan dan strategi pemasaran hasil produksi”

Ia menambahkan buku masih menjadi media utama, bagi daerah-daerah yang masih sulit mengakses internet. Sehingga menurut pria yang biasa dijuluki “Ketua Literasi NTT,” peningkatan akses pendidikan dan akses baca seperti TBM dan bahan bacaan berkualitas menjadi hal urgen yang harus dilakukan.

Komentar