Indonesia Perkuat Pariwisata Laut Melalui Perlindungan Ekosistem dan Pengembangan Ekonomi Biru

Pariwisat

Indonesia semakin serius mengembangkan sektor pariwisata laut dengan strategi yang menekankan perlindungan ekosistem, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Strategi ini mendapat sorotan pada forum Bali Ocean Days 2026, yang dihadiri oleh pejabat pemerintah, pelaku pariwisata, ilmuwan, dan perwakilan komunitas pesisir, untuk mendorong tata kelola laut yang berkelanjutan dan pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan.

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan bahwa perlindungan ekosistem laut bukan lagi menjadi perhatian sampingan, melainkan fondasi utama dalam visi pariwisata Indonesia untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif. Pernyataan ini menunjukkan perubahan kebijakan nasional, dari fokus pada jumlah wisatawan semata menjadi penekanan pada kesehatan lingkungan jangka panjang dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Potensi Kepulauan dan Pertumbuhan Pariwisata Inklusif

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan alam yang luar biasa, dengan lebih dari 70 persen wilayahnya berupa lautan. Terumbu karang, kehidupan laut yang melimpah, pantai berpasir putih, dan desa-desa pesisir yang kaya budaya menjadi aset utama untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman alam dan budaya.

Pada tahun 2024, sektor pariwisata laut diperkirakan menyumbang sekitar 5,9 miliar USD, menunjukkan hubungan erat antara pariwisata, perikanan, konservasi, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Angka ini mencerminkan meningkatnya permintaan global terhadap pengalaman wisata yang berfokus pada alam, budaya, dan tanggung jawab lingkungan.

Salah satu strategi utama adalah pengembangan desa wisata pesisir. Hingga akhir 2024, lebih dari 2.000 dari sekitar 12.000 desa pesisir telah menawarkan produk pariwisata laut, seperti tur terumbu karang, eksplorasi hutan mangrove, kegiatan memancing tradisional, dan homestay komunitas. Inisiatif ini tidak hanya mengarahkan wisatawan ke luar destinasi populer, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi langsung bagi masyarakat setempat sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.

Bagi wisatawan, model ini menghadirkan pengalaman otentik dan rendah dampak, yang menghubungkan mereka dengan budaya lokal, alam, dan upaya konservasi. Bagi masyarakat, pendapatan dari pariwisata yang bertanggung jawab menjadi insentif untuk melindungi ekosistem, memulihkan habitat, dan menggunakan sumber daya secara berkelanjutan.

Kerangka Kebijakan dan Standar Internasional

Untuk menjamin keberhasilan strategi ini, Indonesia telah membangun kerangka kebijakan komprehensif yang menempatkan prinsip pariwisata berkelanjutan dalam hukum dan perencanaan nasional.

Undang-Undang No. 18 Tahun 2025 tentang Pariwisata, Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional, dan peraturan menteri terkait selaras dengan standar internasional seperti Global Sustainable Tourism Council dan prinsip-prinsip PBB. Hal ini memastikan keseimbangan antara perlindungan lingkungan, integritas sosial dan budaya, serta kesejahteraan ekonomi saat ini dan untuk generasi mendatang.

Sistem sertifikasi nasional SERTIDEWI menjadi alat penting untuk mengimplementasikan prinsip ini. Lebih dari 45 desa wisata dan dua kawasan tujuan lebih luas telah mendapatkan sertifikasi, meningkatkan kepercayaan wisatawan global yang semakin mencari destinasi bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Konservasi dan Inovasi Berbasis Komunitas

Selain kebijakan, upaya konservasi kini berkembang di tingkat akar rumput. Kelompok pemuda dan masyarakat di beberapa desa pesisir, seperti Pulau Miang, aktif melakukan proyek transplantasi terumbu karang dengan teknik inovatif. Program ini tidak hanya memulihkan ekosistem laut yang rusak, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mendidik tentang perjalanan konservasi.

Selain itu, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah daerah gencar melakukan kampanye pengurangan sampah laut, pendidikan publik, dan kerja sama pembersihan pantai. Upaya ini penting untuk menjaga keindahan pesisir dan kesehatan ekosistem yang menjadi daya tarik utama pariwisata laut.

Ekonomi Biru sebagai Strategi Nasional

Strategi ekonomi biru menjadi inti dari pendekatan Indonesia, yang mengedepankan pemanfaatan sumber daya laut secara bertanggung jawab untuk menciptakan nilai ekonomi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat, sambil menjaga ekosistem tetap produktif.

Model pariwisata regeneratif, termasuk restorasi terumbu karang, penanaman mangrove, pelestarian keanekaragaman hayati, dan peningkatan ketahanan iklim, menjadi bagian penting dari strategi ini. Pendekatan ini menarik wisatawan yang peduli lingkungan dan ingin berkontribusi positif terhadap alam dan komunitas.

Pemerintah juga menjalin kemitraan dengan lembaga internasional untuk memperkuat penelitian, perencanaan spasial laut, dan pengelolaan konservasi. Hal ini mendukung perencanaan terpadu yang seimbang antara pariwisata, perikanan, dan pembangunan.

Engagement Global dan Prospek Masa Depan

Indonesia semakin menegaskan perannya di kancah global. Negara ini akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit 2026 di Bali, bekerja sama dengan World Economic Forum. Acara ini diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi laut global dan mendorong kolaborasi internasional dalam pariwisata laut berkelanjutan, pembiayaan konservasi, dan inovasi ekonomi biru.

Kerja sama regional, termasuk aliansi trilateral di Asia Tenggara, semakin memantapkan Indonesia sebagai pusat solusi kolaboratif yang memberi manfaat bagi alam dan masyarakat.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun banyak kemajuan, tantangan tetap ada. Sampah laut, polusi pesisir, ancaman perubahan iklim, dan kekurangan infrastruktur dapat menghambat pertumbuhan pariwisata laut jangka panjang. Penanganan tantangan ini membutuhkan investasi berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi aktif masyarakat untuk melindungi ekosistem yang menjadi daya tarik utama.

Namun, strategi Indonesia yang menyatukan perlindungan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan nilai ekonomi membuka prospek cerah bagi pariwisata laut. Dengan tren wisata global yang semakin menekankan pengalaman bertanggung jawab dan autentik, model pariwisata berbasis laut Indonesia siap menarik wisatawan internasional sekaligus menjaga warisan alam untuk generasi mendatang.