oleh

IKKEF Kumpulkan 78 Kantong Sampah di Pantai Warna Oesapa, Kota Kupang Masuk Daftar Kota Terkotor di Indonesia

-News, NTT-138 views

“Kalau bukan kita warga Kota Kupang siapa lagi? Mudah-mudahan kesadaran warga semakin baik dalam menangani sampah”

BINTANGFLOBAMORA.Com, Kota Kupang – Pada Sabtu, 30/10/2021, warga Kota Kupang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKKEF) Kupang melaksanakan kerja bakti yakni membersihkan pantai warna yang berlokasi di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima. Kerja bakti dilakukan dalam rangka menyongsong perayaan puncak Pesta Perak IKKEF ke-25.

Dalam menyukseskan kegiatan ini, panitia Pesta Perak IKKEF berkordinasi dengan Dinas Kebersihan Kota Kupang, Camat Kelapa Lima dan pihak Kelurahan Oesapa. Selain itu, seluruh unsur IKKEF yang terdiri dari Sesepuh, Pengurus, Kelompok Arisan, Muda-Mudi Ende dan Ipelmen turut berpartisipasi memperlancar kegiatan kerja bakti.

Selama kurang lebih tiga jam, kelompok warga asal bumi Kelimutu tersebut berjibaku membersihkan sampah yang berseliweran di pantai warna. Akibat hujan lebat yang mengguyur Kota Kupang beberapa hari terakhir, banyak sampah yang terbawa arus ke laut dan juga tersebar di sepanjang pantai.

Warga IKKEF Kupang bergotong royong membersihkan sampah di sepanjang pantai warna. Terdapat pula sampah-sampah yang telah tertanam pasir sehingga warga harus menggali untuk mengeluarkan sampah.

Dari kerja bakti tersebut, keluarga besar IKKEF berhasil mengumpulkan sebanyak 78 kantong sampah berukuran 50 kg yang selanjutnya dimuat oleh Dinas Kebersihan Kota Kupang menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Ketua panitia pesta perak IKKEF, Tommy Seru menyatakan, 78 kantong sampah yang terkumpul bukan ukuran, tetapi semangat untuk cinta terhadap lingkungan adalah hal yang lebih besar.

Baca Juga:  Abdul Azis Lantik Anggota Ipelmen di TD Yesus Maria Yoseph

Melalui keterangan tertulis yang diterima bintanglobamora.com, Tommy mengatakan IKKEF bukan hanya wadah kekeluargaan dan persaudaraan tetapi juga organisasi sosial yang punya tanggung jawab dalam menciptakan kenyamanan bersama, salah satunya dengan menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Ia merincikan beberapa agenda kegiatan menuju puncak pesta perak IKKEF ke-25 antara lain, IKKEF Peduli Sampah, Donor Darah, Anjang Sana ke Panti Asuhan, Festifal Seni Budaya (Virtual), Webinar dan Talshow.

Flyer rincian kegiatan dalam rangka HUT IKKEF Kupang ke-25

“Selain kerja bakti, kami sudah berkoordinasi dengan pihak Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kupang pada 13 November mendatang keluarga besar IKKEF akan beramai-ramai mendonorkan darahnya. Kemudian minggu berikutnya kami akan mengunjungi Panti Asuhan, juga mengadakan Webinar dan Talkshow yang mengangkat isu-isu penting seputar Kota Kupang, NTT dan Indonesia,” kata pria yang akrab disapa Toser itu.

Ketua IKKEF Kupang, Yosef Meba menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada warga Diaspora Kabupaten Ende di Kupang yang telah berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang diagendakan panitia Pesta Perak IKKEF.

“Semoga ini menjadi momentum yang indah dalam membangun kebersamaan dan kekuatan emosional, untuk mengikat semangat kekeluargaan yang merupakan kultur Ende Lio, sekaligus menguatkan semangat pengabdian sebagai warga Kota Kupang,” ungkap Yosef.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Dinas Kebersihan Kota Kupang, Pemerintah Kecamatan Kelapa Lima dan Kelurahan Oesapa yang telah memberikan kemudahan sehingga kegiatan kerja bakti dapat berjalan dengan lancar.

Baca Juga:  Ragam Cerita Haru Dibalik Kegiatan IKKEF Peduli

Sembari mengajak warga IKKEF lainnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial di waktu yang akan datang, ketua IKKEF yang kedelapan tersebut, turut memberikan apresiasi kepada sesepuh IKKEF yang hadir di lokasi kegiatan yakni, Ali Muhammad, Servas Mario Pati dan Rafeel Levi Leta.

“Kehadiran para sesepuh dan penasehat IKKEF di kegiatan peduli sampah membuat kami tidak merasa sendiri dan membuat warga yang terlibat semakin semangat,” ujarnya.

Dalam bakti sosial IKKEF, hadir Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Sekretaris Dinas, Kepala Bidang, Kepala Seksi bersama sejumlah staf. Kegiatan diakhiri dengan makan bersama di pinggir pantai dengan menu makanan lokal khas Ende Lio.

Sebagai informasi, hari ulang tahun (HUT) IKKEF sejatinya jatuh pada tanggal 30 Juni, namun acara puncak pada tahun 2021 baru bisa dirayakan pada bulan November akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan status Penerapan Pembatasan Kegiatan Sosial (PPKM) di Kota Kupang terus mengalami perubahan.

Potret kebersamaan dan gotong royong warga IKKEF dalam kegiatan peduli sampah di sepanjang pantai warna Kelurahan Oesapa, Kota Kupang.

Kota Kupang Salah Satu Kota Terkotor

Sesepuh IKKEF, Dr. Rafael Levi Leta yang juga Akademisi di Fakultas Pertanian Undana Kupang.

Sesepuh IKKEF, Rafael Levi Leta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan IKKEF Peduli Sampah memberikan komentar melalui akun media sosialnya berkaitan dengan kebersihan Kota Kupang. Menurutnya Kota Kupang adalah salah satu kota terkotor di Indonesia berbanding lurus dengan kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.

Pernyataan Doktor di Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Nusa Cendana Kupang itu didukung oleh riset Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menempatkan Kota Kupang masuk dalam 10 kota terkotor di Indonesia. Produksi sampah per hari di Kota Kupang mencapai 250 ton. Meski bak sampah telah disiapkan di setiap RW, kelurahan, masyarakat masih doyan membuang sampah di lahan-lahan kosong yang ada di dalam dan sekitar Kota Kupang.

Baca Juga:  Tokoh Lokal Hingga Nasional Jadi Narasumber Di LKK Virtual Ipelmen Kupang

Sebagai penasehat IKKEF, Rafael menyatakan salut dan bangga kepada Pengurus IKKEF dan kaum muda Kabupaten Ende yang telah menginisiasi aksi sosial tersebut. Dirinya berharap, aksi pemungutan sampah ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya yang ada di Kota Kupang.

“Kalau bukan kita warga Kota Kupang siapa lagi? Mudah-mudahan kesadaran warga Kota Kupang semakin baik dalam menangani sampah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Pemerintah masih lemah dalam menghadapi ulah para pembuang sampah sembarangan.

“Contoh, sampah yang kami pungut adalah sampah yang dibuang oleh para penjual yang selalu menjajakan dagangannya siang dan malam. Mereka selalu buang sampah ke pantai. Untuk menghentikannya, Pemerintah dapat melakukan kontrak dengan pemilik usaha yakni seluruh penjual wajib membersihkan sampah di lokasi jualan maupun di pinggir pantai. Jika tidak maka usaha mereka dihentikan,” katanya.

Untuk merubah perilaku, lanjut Rafael perlu dilakukan cara persuasif dan cara paksaan. Menurutnya, jika selama ini Pemerintah sudah melakukan persuasi tetapi masyarakat tidak taat, maka Pemerintah seharusnya menggunakan paksaan dengan kuasa yang dimiliki pemerintah.

Penulis : Agung Hermanus Riwu

Komentar