oleh

Indonesia Rugi 56 Triliun Gara-gara Toilet

Oleh : AGUNG HERMANUS RIWU (Ketua FTBM Kota Kupang)

BINTANGFLOBAMORA.Com – Hari ini (19 November) adalah peringatan World Toilet Day (WTD). Orang Flores bisa menyebutnya dengan hari kakus sedunia. Sejujurnya saya juga baru tau selepas membaca tulisan Karolus Ngambut (Staf Akademik Jurusan Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang) yang dimuat gardaindonesia.id dua tahun lalu.

WTD ditetapkan oleh PBB pada tahun 2013 dengan tujuan untuk mengampanyekan, memotivasi dan menggerakkan masyarakat tentang pentingnya sanitasi. Data dan fakta menunjukkan masih banyak masyarakat belum mempunyai akses yang layak terhadap urusan sanitasi atau toilet.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data nasional pada tahun 2021 yaitu sebanyak 79,5 % rumah sudah mempunyai akses sanitasi yang layak. Berarti ada 20% lebih rumah dengan sanitasi yang tidak layak.

Baca Juga:  Lentera Filsafat di Tangan Perawat

Sementara itu BPS NTT merilis data akses sanitasi layak masyarakat di NTT pada tahun 2020 berada di angka 69,7 %. BPS juga merincikan sebanyak 12,3% masyarakat NTT menggunakan jamban cemplung, 5,35% menggunakan jamban plengsengan dengan tutup dan 12,67% menggunakan jamban plengsengan tanpa tutup.

Kelompok masyarakat yang menggunakan jamban cemplung dan plengsengan termasuk kategori akses sanitasi yang tidak layak.

Data lain pada tahun 2019 yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, masih terdapat 125 ribu masyarakat NTT yang Buang Air Besar (BAB) sembarangan.

Baca Juga:  Sudah Kantongi Ijin, Klinik King Care Berharap Dinkes Pertimbangkan 3 Hal

Dulu, kebanyakan masyarakat kalau perut mules alternatifnya ada tiga, kandang babi, kebun atau kali. Di daerah tertentu bahkan menjadikan pinggir pantai sebagai tempat pelampiasan kebelet. Bukan tidak mungkin, cara-cara diatas masih diterapkan hingga sekarang. Penyebabnya antara lain, masalah akses air bersih, pemahaman dan ekonomi.

Dampak dari itu adalah munculnya berbagai macam penyakit terutama diare. Tahun 2018, Bank Dunia merilis laporan kerugian ekonomi di Indonesia karena sanitasi yang buruk sebesar Rp.56 Triliun akibat dari hilangnya hari produktif masyarakat karena sakit yang berhubungan dengan sanitasi. Bahkan beberapa kajian ilmiah menyimpulkan bahwa sanitasi mempunyai kontribusi positif terhadap kejadian stunting (balita pendek di banding dengan umurnya) di beberapa negara di dunia.

Baca Juga:  Sudah Kantongi Ijin, Klinik King Care Berharap Dinkes Pertimbangkan 3 Hal

Bersyukur saat ini, seiring dengan perkembangan informasi dan pengetahuan, masyarakat di kampung-kampung mulai sadar untuk memiliki toilet yang layak. Meskipun demikian, persoalan buruknya sanitasi masih menjadi masalah bagi NTT baik di perkotaan maupun pedesaan. Dibutuhkan upaya bersama baik pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga terkait untuk mengatasi masalah ini mulai dari tahapan promotif, preventif sebelum kuratif.

Semoga selepas tahun 2021, 30,3 % rumah di NTT yang akses sanitasinya belum baik dapat diperbaiki, juga adanya kesadaran dari 125 ribu warga agar tidak BAB di sembarang tempat.

Selamat Merayakan Hari Kakus Sedunia. Pastikan sanitasi di lingkungan rumah kita bersih, aman dan nyaman.

Komentar