oleh

Irene Dewi Lorenza, Peserta Terbaik Festival Literasi HANI 2021

-News, NTT, Pendidikan-453 views

“Saya terinspirasi, karena saya merasa ditantang untuk menjadikan kekuatan kata sebagai solusi untuk sebuah situasi nyata. Besar keinginan saya pula untuk menciptakan sebuah antologi bersama sekaligus menunjukan bahwa literasi NTT juga bisa”

Oleh: Ardi Leo Du, 1 Juli 2021

BINTANGFLOBAMORA.COM, Kupang – Irene Dewi Lorenza, mahasiswi Program Studi Ilmu Kompuetr, Universitas Nusa Cendana berhasil menjadi peserta terbaik dalam Festival Literasi, lomba menulis puisi anti narkotika yang diselenggarakan oleh Yayasan Polikarpus Do Flobamora (YASPORA) NTT dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTT.

Mengirimkan puisi berjudul, Perang Narkoba dan Musim Pancaroba, ia berhasil menyisihkan 55 karya lain yang dikirim dari berbagai daerah di NTT.

Baca Juga:  "Kehilangan Arah," Puisi Wela Runu Yang Menghipnotis Peserta Webinar Budaya NTT

Dalam perasaan bangga dan haru, dara kelahiran Perang, Manggarai Barat, 21 Februari 2002 tersebut tidak menyangka jika dirinya bisa meraih penghargaan sebagai peserta terbaik dalam festival tersebut.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kasih. Bicara tentang perasaan saya, tentu ini sesuatu yang membanggakan . Dan di luar itu, jujur saya tidak menyangka terpilih menjadi yang terbaik,” ucap Dewi.

Ia mengungkapkan, ketika melihat daftar nama peserta yang mengikuti festival, sempat membuat kepercayaan dirinya berkurang.

“Dari awal saya melihat nama-nama peserta, saya langsung tidak percaya diri. Itu karena saya merasa, peserta lain adalah para penulis yang sudah berteman baik dengan kata-kata. Tetapi bagi saya, ke-56 peserta adalah pemenang,” tambahnya.

Baca Juga:  Peringati HANI 2021, YASPORA NTT Gelar Webinar Bertajuk Literasi Anti Narkoba

Dewi juga menjelaskan inspirasi bagi dirinya ketika menulis puisi anti narkotika ialah ingin menggunakan kekuatan kata-kata menjadi solusi untuk sebuah situasi nyata.

“Saya terinspirasi, karena saya merasa ditantang untuk menjadikan kekuatan kata sebagai solusi untuk sebuah situasi nyata. Besar keinginan saya pula untuk menciptakan sebuah antologi bersama sekaligus menunjukan bahwa literasi NTT juga bisa,” imbuhnya.

Untuk menulis karya tersebut, Dewi mengatakan dirinya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu semenjak dapat informasi tentang festival menulis puisi.

“Kurang lebih satu minggu saya merenung, merangkai kata dan ketika menggores pena di atas kertas mengalir saja hingga bait terakhir,” katanya.

Perang Narkoba dan Musim Pancaroba

Oleh : Dewi Lorenza

Bukan lagi perang bersenjata

Baca Juga:  BNN Apresiasi Strategi War On Drugs Yang Digagas YASPORA NTT

Mungkin seperti dunia dimabuk cinta

Segala sesuatu melekat pada mata

Sialnya, mata buta bahwa semesta punya realita

Di luar, narkoba dari neraka meraba-raba

Hawanya menyelinap masuk ke rumah jiwa-jiwa layu

Seperti musim pancaroba yang datang tanpa aba-aba

Hujan dan petirnya membuat Si Getir termakan rayu

Lalu, sampai kapan pura-pura tuli pada berita?

Narkoba telah melahap nyawa dan harta

Akh, untuk apa pula puisi bercerita

Bukankah dunia ini sudah tak mengenal kata

Perang ini butuh tindak nyata

Tidak sekedar bom bardir kata-kata

Yang menambah luka hati yang menderita

Sebelum, pancaroba kedua, peluk pelik yang renta

Kupang, 15 Juni 2021

Komentar