oleh

Joan Lukas : “Rasa”

-Editorial, News-425 Dilihat

Oleh : JOAN A. LUKAS, Guru SDK Don Bosco 4 Kota Kupang, 10 Desember 2021

BINTANGFLOBAMORA.Com – Hari ini sepucuk rindu datang menghampiriku bersama terbitnya fajar harapan yang hanya berakhir pada mimpi senja kelabu . Ku mantapkan langkah menganyun perlahan, menenun kisah yang mungkin tak seindah mimpi. Ya luka itu, tampak sekilas namun membekas. Luka yang tak pernah terlintas di benakku bahkan tak ingin menikmati rasanya.

Bagaimana jika esok ku tak mampu merasa ? Apakah itu adalah puncak ego ku ? Mencoba menemukan rasa itu lagi yang telah pergi dibawa derunya angin, dapatkah dimulai dari hal kecil ini ? Yang sama sekali tak berguna tapi mungkin saja bisa mengembalikan rasa walau cuma debu.

Ruang sedihku semakin terasa sesak,di tiap sudutnya terasa semu. Tak apa bila sesak , jawaban semesta memang tak terduga.Jawaban itu mungkin akan melegakanku. Seonggok kepercayaan yang hampir sirna, mulai muncul di balik remangnya harapan mungkin kehadirannya bisa menjadi penghangat yang tampak semu.

Memang perjalananku tak semulus jalan tol, tak seindah cerita cinderela. Namun perjalananku memiliki banyak rasa yang tak dapat kau rasakan. Mungkin aku pun tak seberuntung cerita cinta Bollywood, tapi setiap tarian rindunya selalu memanjakan mimpiku.

Sinar keberuntungan datang menghampiri seakan ia tau betapa lunglainya rasa yang hampir mati rasa. Mendapatkan hati dan cinta di setiap serat keberadaan bagai mendulang emas dalam lembah berapi.

Seketika rembulan berbisik manja padaku, “hei, jalanmu memang kupersulit agar rasamu diperbaiki bukan diakhiri, agar bahasa cintamu dibicarakan bukan ditinggalkan berlalu tanpa kata.”

Luka membuat cinta tak mengenal batas dengan hati yang cantik untuk dilihat namun sulit ditangkap. Hanya ada satu jalan meredakan segalanya, ya curhat jalur langit yang romantis, tanpa jeda tanpa batas. Bara api kecewaku seakan menekan pundak, terasa berat ingin menghancurkan namun hati tak sampai. Pada waktunya kesabaran dalam diam menjadi sangat sederhana untuk menutupi segala rasa.

Pernah ada tangis tanpa isak, teriakan tanpa suara, perih tanpa luka. Semuanya harus diredam, ditahan bahkan disembuhkan. Canda kecil yang merekah menutupi segala duka, karena tak semua luka harus dibuka. Mungkin kita akan dipertemukan di titik terbaik menurut takdir . Percayalah…

Kabut rindu seakan terasa nyaman. Pikirku angin akan membawanya, tapi remah–remah kabut perlahan semakin tebal menyatu dengan diriku, ah…RINDU. .

Gelombang rinduku terseret sepanjang pantai Lasiana entah kapan dapat kuredakan. Ingin menutup mata dari semua yang tak ingin kulihat menutup hati dari semua yang tak ingin kurasakan. Namun ia tetap hadir mengusik dan menggoda hati yang hampir mati rasa. Ia membuat alur cintaku terbentur dan terbentuk, rinduku tertatih lalu terlatih.

inilah kedipan rasaku yang mungkin hanya sekejap mata.

 

Komentar