oleh

Kehadiran dan Kasih Sayang Orang Tua Penting Bagi Masa Depan Anak di Usia Emas

-News, Pendidikan-311 Dilihat

Oleh : Maria B. Advensia, SH.,M.HUM – Widyaprada Ahli Madya – Balai Guru Penggerak Provinsi NTT

BINTANGFLOBAMORA.Com – Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari manusia. Sebagaimana terjabar dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1, menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Selanjutnya, Pasal 5 Ayat 1 disebutkan bahwa, semua warga Negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Hal ini berarti pendidikan juga diperuntukan bagi Pendidikan Anak Usia Dini. Pendidikan Anak Usia Dini yang secara umum bertujuan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak secara optimal dan menyeluruh sesuai norma dan nilai-nilai hidup yang dianut (Suyadi dan Ulfa 2013:11).

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam membentuk generasi-generasi penerus yang berkualitas dimulai dari anak usia dini. Anak usia emas atau anak usia dini yang berusia 0-6 tahun. Usia emas atau usia dini adalah masa yang sangat penting bagi perkembangan potensi anak seperti yang dikemukakan oleh Fieldman (2009:24) yang mengatakan bahwa masa balita adalah masa emas yang tidak dapat terulang kembali. Masa ini adalah masa yang sangat penting dalam membentuk dasar-dasar kepribadian, kemampuan berpikir, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi.

Masa usia dini juga disebut sebagai masa keemasan, dimana masa ini ditandai oleh berkembangnya jumlah dan fungsi sel-sel saraf otak anak. Oleh karenanya, masa usia keemasan ini sangat penting bagi perkembangan intelektual, emosi dan sosial anak dimasa mendatang dengan mengerti, menghargai talenta atau keunikan dari setiap anak.

Melihat hal ini, maka banyak ahli pendidikan bersepakat mengatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini sangat penting dan harus dilakukan sejak lahir. Itu diperkuat oleh hasil penelitian yang membuktikan bahwa pendidikan sejak dini akan mempengaruhi perkembangan otak anak, kesehatan anak, kesiapan anak bersekolah, kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik dimasa selanjutnya jika dibanding dengan anak-anak yang kurang terdidik pada usia dini. Dewantara dalam Asmani (2009:18), menyebutkan bahwa anak memperoleh pendidikan untuk mencerdaskan (mengembangkan) pikiran, mencerdaskan hati (kepekaan hati nurani) dan meningkatkan keterampilan.

Masalah yang masih dijumpai adalah peran orangtua dalam Pendidikan Anak Usia Dini tidak semua dilaksanakan. Ini terlihat dari data Komnas Anak Tahun 2006, telah terjadi 1.124 kekerasan anak diantaranya 485 kekerasan seksual, 433 kekerasan fisik, dan 106 kekerasan psikis. Dari jumlah tersebut, 23,95 % kejahatan/kekerasan terjadi didalam keluarga, seperti kekerasan fisik yang dilakukan orangtua pada anak, penelantaran anak, kekerasan seksual pada anak usia dini, dan ada juga orangtua yang membunuh balita.

Melihat hal ini, sangat diperlukan peran seluruh kalangan masyarakat, baik pemerintah, lingkungan masyarakat terutama lingkungan keluarga untuk melihat hal ini sebagai hal yang prioritas harus dihindari. Keluarga memiliki peran yang sangat penting. Karena keluarga merupakan tempat yang pertama dalam membangun fondasi belajar yang utama anak balita. Seperti dikatakan Fadilah (2013:35) bahwa lingkungan keluarga adalah lingkungan awal seorang anak. Segala tingkah laku maupun perkembangan yang muncul pada anak akan meneladani kedua orangtuanya. Selain itu, orangtua sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya pada perkembangan pendidikan anak.

Orangtua dalam menjalankan perannya dalam pendidikan perlu melakukan dorongan, bimbingan, memotivasi, dan memfasilitasi demi tercapainya pendidikan anak yang diperlukan. Peran orangtua dalam pendidikan anak usia dini dipengaruhi oleh beberapa factor (Friedman dalam Slameto 2003:39). Faktor-faktor itu sebagai berikut :

  1. Faktor Status Sosial, ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan, penghasilan.
  2. Faktor bentuk keluarga
  3. Faktor tahap perkembangan keluarga dimulai dari terjadinya pernikahan yang menyatukan 2 pribadi yang berbeda dilanjutkan dengan faktor persiapan menjadi orangtua.
  4. Faktor model peran.
Baca Juga:  Bangkit Membangun Bangsa Dari Tempat Tinggal

Kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan pendidikan sebagai proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan. Menurut Hasnia (2014:167), PAUD adalah jenjang pendidikan sebelum pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lanjut yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal dan informal.

Upaya dan tanggung jawab terhadap kebutuhan dan pemenuhan hak anak menjadi tugas orangtua dalam pemenuhan hak. Seperti yang dikatakan oleh Sujiona (2011:7) yaitu Pendidikan PAUD adalah meliputi upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orangtua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak.

Pada era sekarang sudah tidak lazimnya lagi anak dididik dengan kekerasan. Anak perlu mendapatkan bimbingan dan arahan yang tepat agar proses belajarnya maksimal. Salah satu cara utama yang penting dalam pendidikan anak usia emas adalah “memberikan cukup kasih sayang”. Cara mendidik anak usia dini yang baik dan benar adalah model pembelajaran atraktif dan komunikatif. Selain lebih mudah dimengerti, cara ini membuat proses berpikir si kecil lebih fokus. Sebagai orangtua sebaiknya memposisikan diri sebagai kawannya sehingga si kecil bisa belajar dengan ceria.

Cara yang bisa dipakai dalam mendidik anak usia dini dengan kasih sayang dirumah, antara lain:

1. Membacakan Cerita Anak

Pesan yang disampaikan ke anak bisa mengedukasi bercerita tentang beragam kisah menarik dan dapat menginspirasi dirinya menjadi pribadi yang cerdas. Selain itu membaca cerita pada anak merupakan salah satu wujud kecintaan dan kasih sayang si kecil dalam setiap waktu.

2. Memberikan Pengalaman Berbeda

Bentuk kasih sayang orangtua ke anak tidak selalu dengan memanjakan anak. Anak juga dapat menyalurkan perhatiannya dalam bentuk pengalaman baru bagi anak. Orangtua bisa mengajak anak berkebun di taman rumah atau berbelanja ke pasar tradisional. Selain bisa memberikan perhatian, cara ini bisa menambah pengalaman baru yang dapat mendukung perkembangan otak si kecil. Bagikan kasih sayang sebagai orangtua dengan cara mendidik yang baik dan benar.

3. Ikuti Minat Anak

Anak biasanya memiliki banyak keinginan. Ikuti keinginan si kecil agar akal dan aksi pintarnya bisa teraplikasi. Ikuti keinginan yang bersikap positif dan dapat membangun karakternya. Contoh, keinginannya untuk belajar music, berkebun atau melukis. Fasilitasi dan bimbing dengan penuh kasih sayang.

Pengaruh Positif Bagi Anak yang dididik dengan Kasih Sayang

  1. Kasih sayang akan mendatangkan kesenangan dan kegembiraan. Semakin besar kasih sayang orang tua pada anak maka kegembiraan pada anak semakin besar dan menjadikan hati anak semakin peduli dan perhatian.
  2. Anak belajar kasih sayang dari orang tuanya sehingga ia akan menerapkan kasih sayang tersebut kepada orang lain dengan cara yang dilihatnya dari orang tuanya. Anak yang tidak merasakan kasih sayang yang hakiki di samping mendapatkan pengaruh negative pada tubuh dan jiwanya, juga akan bermasalah dalam mempelajari kasih sayang dan akhirnya ia tidak mampu mencintai dan menyayangi orang lain di masa yang akan datang.
  3. Munculnya kepercayaan diri. Anak yang memiliki kemerdekaan dan kepercayaan diri mampu memecahkan persoalan sendiri dan tidak menunggu bantuan orang lain. Dengan motivasi besar dan tekad yang membaja, anak tersebut berusaha mencari solusi atas setiap problem yang dihadapinya, sehingga sebelum mencapai tujuannya maka pantang baginya untuk mundur.
  4. Kasih sayang akan memotivasi anak-anak untuk melakukan pelbagai aktivitas dengan sukses. Anak yang merasakan kasih sayang secara cukup maka ia akan sukses dalam menggeluti pelbagai aktivitas dan bidang yang digemarinya. Di bidang pendidikan ia akan menjadi anak yang cerdas dan terampil dan secara fisik pun ia akan tumbuh secara sehat.
  5. Kasih sayang kepada anak mampu menarik simpati sang anak, dan pada giliranya anak akan mempercayai orangtuanya, sehingga terjalinlah hubungan baik antara keduanya dan anak akan mendengar dan menuruti perkataan orangtua. Dengan demikian anak ini akan mudah dididik dan diarahkan oleh orangtuanya. Sebab anak ini menyukai orang yang penyayang dan yang memahami keinginannya dimana orang seperti ini ia temukan pada pribadi orangtuanya, sehingga ia akan menuruti perintah orangtuanya.
  6. Meningkatkan Kinerja Otak Anak. Dengan kasih sayang yang diberikan orangtua kepada anak, kasih sayang tersebut mampu membuat peningkatan kinerja otak anak, sehingga anak akan menjadi lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan kepadanya.
  7. Menyehatkan anak terutama pada masa-masa golden age sampai dewasa. Kasih sayang pun akan memberikan kesehatan pada anak, dengan orangtua memberikan kasih sayang tersebut akan memicu saraf motorik anak, sehingga anak akan lebih semangat dan senang untuk bergerak. Dan dengan banyaknya gerak yang dilakukan anak akan membuat kinerja otot dan tulang terbentuk dan menjadi lebih kuat.
  8. Anak akan memberikan pengaruh positif kepada orangtua dan keluarga. Dengan kasih sayang orangtua pula anak akan lebih dekat dengan orangtua dan itu juga membiasakan anak untuk selalu menyayangi keluarganya. Berbeda dengan anak yang tidak mendapatkatkan kasih sayang yang sempurna dari orangtuanya, karena mereka sendiri terkadang akan merasakan kebingungan bagaimana cara memberikan kasih sayang untuk orangtua dan keluarga.
  9. Anak akan lebih terbuka dengan orangtua. Dengan orangtua membiasakan memberikan kasih sayang kepada anak, anak akan lebih mudah terbuka kepada orangtua. Anak akan selalu menceritakan kejadian- kejadian yang mereka alami, mulai dari yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan ataupun tentang masalah perasaan. Anak akan lebih mudah bercerita kepada orangtuanya karena mereka merasa nyaman dalam berbagi dengan orangtunya karena kasih sayang yang didapatkannya. Berbeda lagi dengan anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, mereka akan lebih mudah tertutup dan memendam sendiri masalahnya sehingga anak yang seperti itu akan lebih mudah tetekan pada fikiran dan mungkin perasaan.
Baca Juga:  Terpilih Lagi Sebagai Ketua, Aram Kolifai Ajak Pengurus DPW FK-PKBM Jadi Pahlawan Untuk NTT

Pengaruh Negatif Bagi Anak yang dididik dengan Kekerasan

1. Melakukan kekerasan

Akibat dari kekerasan yang dialami bukan hanya menjadi korban semata, namun anak yang juga menjadi korban kekerasan justru bisa berubah menjadi pelaku kekerasan tersebut. Misalnya, ada penelitian yang mengungkap bahwa perilaku membully justru banyak dilakukan oleh
mereka yang dulunya pernah menjadi korban bullying, dan kemungkinan itu sangat tinggi.

2. Rendahnya kepercayaan diri

Kepercayaan diri anak yang rendah seringkali disebabkan oleh ketakutan akan melakukan sesuatu yang salah dan ia akan mengalami kekerasan lagi. Hal ini akan menyebabkan perkembangan anak terhambat. Anak akan sulit menunjukkan sikap inisiatif dalam memecahkan masalah, bahkan mengalami kesulitan bergaul.

3. Mengalami trauma

Kekerasan yang dialami anak akan menimbulkan luka hati dan juga trauma pada anak. Dampaknya dalam kehidupan anak selanjutnya akan sangat besar, salah satunya depresi, stress, dan gangguan psikologis lainnya yang dapat mengganggu kehidupan sosial serta aktivitas sehari – hari. Anak juga akan menjadi takut tehadap segala bentuk kekerasan, bahkan yang terkecil sekalipun, misalnya suara – suara keras, pembicaraan bernada tinggi, dan lain – lain.

4. Perasaan tidak berguna

Anak- anak yang sering mengalami kekerasan dapat mengembangkan perasaan tidak berguna di dalam dirinya. Bukan hanya itu, namun juga adanya perasaan tidak bermanfaaat dan tidak bisa ditolong akan berkembang dalam kejiwaan anak. Pada akhirnya, anak akan menjadi pendiam, mengucilkan diri dari lingkungannya, dan tidak bergaul dengan teman sebayanya karena merasa hal tersebut lebih nyaman.

5. Bersikap murung

Anak – anak identik dengan keceriaan, namun tindak kekerasan akan merampas senyum dari wajah seorang anak. Perubahan yang cukup drastis pada kondisi emosional anak akan langsung terlihat. Anak akan terlihat menjadi pendiam, pemurung, mudah menangis. Ia juga sama sekali tidak menunjukkan raut wajah yang ceria dalam keadaan yang menyenangkan sekalipun.

Baca Juga:  Cerpen : Seribu Air Mata - Margaretha Tokan

6. Sulit mempercayai orang lain

Anak yang mengalami kekerasan merasa kehilangan figur orang dewasa yang bisa melindunginya, karena itulah sedikit demi sedikit kepercayaannya kepada orang lain akan mulai terkikis, dan anak akan sulit menaruh kepercayaan dan keyakinan pada orang lain lagi. Ia akan menganggap tidak ada orang yang bisa diandalkan untuk memberikan perlindungan kepadanya, karena itulah maka tidak ada orang yang layak untuk dipercaya oleh anak.

7. Bersikap agresif

Sikap agresif juga dapat ditunjukkan anak korban kekerasan sebagai hasil peniruan dari apa yang disaksikannya sehari – hari. Anak akan belajar bahwa sikap yang penuh kekerasan itu adalah sikap yang membuat seseorang menjadi kuat, karena itu ia juga harus bersikap agresif agar dapat menjadi orang yang kuat dan tidak lagi menjadi korban tindak kekerasan.

8. Sulit mengendalikan emosi

Kecenderungan anak yang menderita kekerasan untuk merasa kurang percaya diri dan tidak mempercayai orang dawasa, umumnya tidak dapat mengungkapkan perasaannya dengan benar. Anak kesulitan mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya sehingga mengalami kesulitan dalam mengendalikan atau menunjukkan emosinya sendiri kepada orang lain.

9. Depresi

Sikap murung anak yang berlanjut lambat laun bisa mengarah kepada depresi. Kehilangan kemampuan untuk merasa bahagia perlahan akan meningkatkan perasaan yang buruk dan depresif sehingga anak akan selalu dipengaruhi oleh perasaan yang negatif, tanpa adanya keinginan untuk berpikir positif untuk meningkatkan semangat di dalam dirinya. Anak juga dapat menderita gangguan kecemasan akut serta depresi kronis.

10. Kecerdasan tidak berkembang

Kekerasan dapat menekan proses tumbuh kembang anak. Perkembangn IQ anak akan cenderung menjadi statis dan bahkan tingkat IQ bisa mengalami penurunan. Perkembangan kognitif anak pun akan memburuk dan tidak seperti yang seharusnya. Dengan kata lai, kondisi kecerdasan anaak akan terhambat dengan kekerasan yang dialami anak secara terus menerus.

11. Memiliki kebiasaan buruk

Stres yang dirasakan anak sejak kecil dapat membawanya memiliki kebiasaan buruk yang dilakukan untuk mengalihkan pikirannya dari stres tersebut. Misalnya, merokok, menggunakan obat – obatan terlarang, ketergantungan alkohol, memilih lingkungan pergaulan yang buruk, melakukan seks bebas, dan banyak lagi yang dilakukan sejak usia dini apabila tidak ada pertolongan untuk anak korban kekerasan.

12. Menumpulkan hati nurani

Anak yang dididik dengan kekerasan sejak kecil, akan membentuk karakter anak menjadi tidak peka dengan sekitarnya sehingga membuat anak tidak memiliki hati nurani. Contohnya menghambat perkembangan moral anak, membuat anak melakukan kekerasan juga, meningkatkan perilaku kenakalan, membuat anak senang mengejek dan menindas yang lemah, merusak kesehatan jiwa anak, sering menghayal jadi tokoh jahat dalam TV, game, atau film, senang menonton tayangan tentang kekerasan, merusak hubungan antara orang tua dan anak

13. Mengganggu pertumbuhan otak anak

Menurut DR.Bruce D perry, para kriminal dan pelaku kekerasan memang mempunyai batang otak dan otak tengah dominan, bagian otak ini disebut otak reptil, dimana sifat hewani berasal, sedangkan otak limbic (emosi/cinta) dan korteks(berpikir)lemah, dan pertumbuhan otak ini sangat dipengaruhi lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran para orang tua dan guru untuk selalu menciptakan emosi positif bagi anak- anaknya. Ingat pada usia 5 tahun pertumbuhan otak mencapai 90%, 100 % pada usia 8 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Adipati, Yustus. 2013. Usia Emas (Golden-Age) : Menyoal Kepedulian Orangtua Terhadap Anak PAUD: Missio Ecclesiae

Arif, Abdul. 2020. Kasih Sayang Orang Tua Berperan Penting bagi Anak

Erzad, Azizah Maulina. 2017. Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Sejak Dini di Lingkungan Keluarga: STAIN Kudus, Jawa Tengah

Komentar