oleh

Keindahan Menipo di NTT, Tarik Perhatian Kompas Lakukan Pendidikan Konservasi Alam

Wilayah Menipo termasuk Pulau Menipo merupakan miniatur ekosistem yang ada di Pulau Timor, yang meliputi beberapa ekosistem, yaitu hutan mangrove, padang savana dengan pohon lontar, hutan tropika kering, pantai pendaratan penyu, habitat buaya muara, rusa, burung kakatua, kelelawar, monyet (Kera ekor panjang), musang, angsa laut dan masih banyak satwa lainnya.

Laporan : DON BOSCO W. TANI, 2 Juli 2021 (Editor : AHR)

Komunitas Pencinta Alam dan Sesama (Kompas) Kupang pose bersama dengan membentang bendera komunitas ketika mendarat di Pulau Menipo, salah satu wisata alam yang indah di Pulau Timor, habitat beragam satwa yang unik

BINTANGFLOBAMORA.Com, Kupang – Komunitas Peduli Alam dan Sesama (Kompas) Kupang mengadakan kegiatan Pendidikan Konservasi Alam dan Pengamatan Penyu Bertelur di Tempat Wisata Alam (TWA) Menipo, Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan tersebut dilakukan pada Selasa, 29 Juni 2021. Sebagai komunitas pencinta alam yang bernaung di bawah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi NTT, Kompas mendapatkan ijin resmi untuk melakukan pendidikan konservasi alam di TWA tersebut.

Menempuh Perjalanan Selama 4 Jam

Rombongan Kompas menempuh perjalanan darat dari Kota Kupang menuju Desa Enoraen sejauh 119 Kilometer, dalam durasi kurang lebih empat jam. Dari Kota Kupang, melalui jalur Oesao-Oekabiti-Ponain-Tesbatan-Bikoen. Ada jalur alternatif lain yakni melalui Batuputih di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan jarak 124 Kilometer dari Kota Kupang.

Baca Juga:  KOMPAS Bertekad Bangun Rumah Literasi Alam di Kota Kupang

Akses jalan beraspal hanya dapat dinikmati sampai di Desa Rabeka, sisanya kurang lebih 17 kilo meter, perjalanan sedikit mendapat tantangan karena disuguhkan tanjakan dan batuan lepas.

Meskipun demikian, keindahan alam yang tersaji di sepanjang perjalanan membuat petualangan rombongan Kompas tetap nikmat karena terbentang hutan berpadu dengan lautan lepas yang sangat memanjakan mata.

Tiba di Desa Enoraen, rombongan Kompas melanjutkan perjalanan menuju Pulau Menipo menggunakan transportasi laut milik warga dengan biaya sewa sebesar Rp. 250.000.

Rombongan Kompas ketika menumpang perahu milik warga menuju Pulau Menipo

sebelumnya, rombongan Kompas terlebih dahulu melapor kepada petugas di Pos TWA Menipo untuk memperoleh berbagai informasi dan aturan yang harus diindahkan oleh setiap pengunjung.

Salah satu aturan yang ditegaskan petugas di pos penjagaan, untuk berkunjung ke Pulau Menipo pada masa pandemi Covid-19, setiap pengunjung wajib membawa surat keterangan sehat dari dokter.

Kondisi TWA Menipo

Kawanan Kelelawar yang menghuni wilayah Menipo, Desa Enoraen, Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, NTT (Foto:Antara)

Kepala Resor TWA Menipo, Jamres Benu menjelaskan, taman wisata seluas 2449,50 ha tersebut dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi NTT.

Menipo awalnya ditetapkan sebagai suaka margasatwa seluas 2.000 ha melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 749/Kpts/Um/12/1997 tanggal 30 Desember 1977, yang kemudian mengalami pertambahan luas menjadi 3.000 hektare dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 768/Kpts/Um/12/1978 tanggal 19 Desember 1978.

Baca Juga:  Menpora Siap Dukung Pre Event G-20 dan KTT Asean di Labuan Bajo NTT

Pertimbangan utama adalah wilayah Menipo termasuk Pulau Menipo merupakan habitat satwa liar seperti rusa berjumlah kurang lebih 300 ekor, burung kakatua sebanyak 67 ekor, kelelawar, monyet (Kera ekor panjang), buaya, musang, penyu, angsa laut dan masih banyak satwa lainnya.

Lebih lanjut  Jimres mengutarakan, TWA Menipo merupakan miniatur ekosistem yang ada di Pulau Timor, yang meliputi beberapa ekosistem, yaitu hutan mangrove, padang savana dengan pohon lontar, pantai pendaratan penyu, habitat buaya muara dan hutan tropika kering.

Saat ini TWA Menipo telah memiliki rencana pengelolaan dan blok pengelolaan. Fasilitas pengelolaan sudah cukup lengkap dengan adanya pintu masuk, lahan parkir, dermaga, shelter, menara pengamatan satwa, pondok penginapan dan penetasan penyu semi alami.

Tujuan Kegiatan

Ketua Kompas-Kupang, Alexander Tetik menyampaikan terima kasih kepada BBKSDA Provinsi NTT yang telah memberi ruang, kesempatan serta izin bagi Kompas untuk melakukan kegiatan pendidikan konservasi alam di Pulau Menipo.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan bagi semua anggota tentang konservasi alam terutama mengenai satwa yang dilindungi di pulau tersebut, sekaligus mempererat silaturahmi antara Kompas dengan jajaran yang bertugas di Pos TWA  Menipo,” ungkap Alex.

Baca Juga:  10 Kabupaten di NTT Masuk Target Pelaksanaan Digitalisasi Destinasi Pariwisata Prioritas

Menipo Surga Tersembunyi

Anggota Kompas, Reti Suci mengajak komunitas lain juga para wisatawan untuk datang dan menikmati keindahan alam Pulau Menipo. Menurutnya, Menipo adalah salah satu surga yang tersembunyi di bumi NTT tercinta. Menipo juga merupakan salah satu pulau terbaik untuk melakukan kemping, petualangan atau penjelajahan.

Yang terpenting, menurut Pembina Pramuka tersebut, jika datang ke Manipo setiap orang wajib mengikuti aturan yang berlaku serta menaati protokol kesehatan.

Sementara itu, Sije Oematan ikut mengingatkan para pengunjung atau wisatawan agar menjaga ekosistem yang ada dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat atau merusak fasilitas maupun keaslian kondisi alam yang ada.

Perhatikan Akses Jalan

Salah satu anggota Kompas, Maya Manies berharap Pemerintah baik pusat maupun daerah dapat memberi perhatian dengan meningkatkan kualitas akses jalan menuju Desa Enoraen sebagai pusat tempat wisata.

“Menipo merupakan salah satu tempat wisata yang indah. Pemerintah perlu memperbaiki kondisi jalan yang ada dilengkapi dengan papan penunjuk arah untuk memudahkan wisatawan yang hendak berkunjung,” katanya.

Komentar