oleh

KOMPAS Bertekad Bangun Rumah Literasi Alam di Kota Kupang

-News, NTT, Pendidikan-263 views

“Yang selama ini kita lakukan antara lain, penanaman pohon, pembersihan sampah serta memberikan informasi-informasi penting kepada masyarakat di sekitar kaki gunung Timau, Mutis, untuk melestarikan alam dan melarang penebangan aatau pembakaran hutan dengan alasan apa pun.”

Oleh : DON BOSCO W. TANI & ADRIANUS LEO DU, 18 Mei 2021

BINTANGFLOBAMORA.Com, Kota Kupang – Memperingati Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei 2021, Komunitas Peduli Alam dan Sesama (KOMPAS) menggelar Diskusi Kopi Darat (Kopdar) bertajuk “Penguatan Kapasitas Komunitas di Hari Buku Nasional.”

Acara yang dihelat di lantai dua gerai Suka Roti Fatululi tersebut dihadiri pengurus KOMPAS dan ketua FTBM NTT, Polikarpus Do.

Sebagai pemandu, Don Bosco mengawali diskusi dengan memperkenalkan anggota KOMPAS dan menjabarkan secara singkat perjalanan komunitas tersebut di Kota Kupang.

Ketua KOMPAS, Alexander Y.T. Tetik menjelaskan bahwa Komunitas yang dipimpinnya baru terbentuk pada tanggal 29 Februari 2020, bermula dari hobi dan kecintaan yang sama terhadap alam dan kehidupan sosial.

Baca Juga:  Partai Nasdem Beri Sumbangan Buku ke FTBM NTT

“Komunitas kami berisi anggota yang memiliki kepedulian yang sama terhadap alam dan masalah-masalah sosial. Misalnya, baru-baru ini, kami bergerak menyalurkan bagi korban bencana alam gunung  meletus di Lembata dan bencana badai siklon tropis Seroja yang terjadi beberapa waktu yang lalu,” katanya.

Berkaitan dengan pergerakan KOMPAS, ketua FTBM NTT, Polikarpus Do menyampaikan beberapa langkah penting untuk menaikan eksistensi komunitas.

“Untuk mencapai eksistensi, hanya melalui kualitas pengelolaan dan Kualitas penyelenggaraan program, serta membangun jejaring atau kemitraan dengan semua pihak,”

“Yang paling penting adalah memperkuat kapasitas internal komunitas baik struktur maupun sumber daya manusia sesuai Job Desctiption yang jelas,” pesan Poli.

Menurutnya, setiap komuinitas bisa bergerak lebih maju tergantung pada kualitas komunitas, yang didikung oleh penguatan SDM yang kuat. Dirinya berharap, KOMPAS mampu menjadi jembatan yang bisa membawa kebaikan dan ispirasi bagi banyak orang.

Baca Juga:  Langkah Cerdas IM-LITRA Kupang Membangun Desa

Poli juga mengingatkan, provnsi NTT memiliki banyak komunitas tetapi hanya sedikit yang memiliki legalitas komunitas secara hukum.

“Jadi, KOMPAS tidak hanya terus berbenah secara struktur tetapi juga perlu berkomitmen untuk mendaftarkan komunitas sesuai regulasi dan aturan hukum yang berlaku di Negara.”

Katanya lagi, semangat dan kerelaan jiwa dari setiap individu yang bernaung dalam KOMPAS merupakan bagian penting untuk mengakarkan literasi ekologi serta membangun program sosial.

Menanggapi berbagai masukan di atas, Ketua KOMPAS, Alexander Y.T. Tetik, menyampaikan ucapan terima kasih kepada ketua FTBM NTT yang bersedia menjadi sahabat diskusi KOMPAS.

“Kami memyambut dengan gembira setiap semangat dan inspirasi yang ditularkan Pak Poli, apalagi masukan tentang pengurusan legalitas berbadan hukum, kami siap laksanakan dalam waktu dekat agar lebih mantap maju bersama demi membantu sesama,” tegasnya.

Baca Juga:  FTBM Kota Kupang Fokus Jalankan 5 Program Prioritas

Sementara itu, penasehat KOMPAS, Dudeck, menegaskan tujuan berdirinya KOMPAS berdasar pada semangat dan niat yang sama dari anggota untuk peduli terhadap alam.

“Yang selama ini kita lakukan antara lain, penanaman pohon, pembersihan sampah serta memberikan informasi-informasi penting kepada masyarakat di sekitar kaki gunung Timau, Mutis, untuk melestarikan alam dan melarang penebangan aatau pembakaran hutan dengan alasan apa pun,” ujarnya.

Staf di Kwarda NTT tersebut juga menerangkan bahwa ada agenda kegiatan seperti, pendakian gunung dan kemah, pemberian donasi ke panti asuhan serta kegiatan sosial lainnya telah diprogramkan KOMPAS untuk dilaksanakan.

Di akhir diskusi, KOMPAS dan ketua FTBM NTT sama-sama menyatakan siap bersinergi untuk membangun rumah literasi alam di Kota Kupang. Selain foto bersama, acara penutup dimantapkan dengan penyerahan cindera mata dari Ketua FTBM NTT berupa buku kepada KOMPAS.

Komentar