oleh

Lentera Filsafat di Tangan Perawat

Oleh : ANUNCYATA SERHE

BINTANGFLOBAMORA.Com – Bung Karno pernah berujar, “berikan aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Jelas, melalui kutipan ini Soekarno hendak menjelaskan bahwa masa depan suatu bangsa itu berada di tangan para pemudanya.

Pemuda mempunyai semangat dan keinginan yang menyala-nyala untuk tidak pernah menyerah. Oleh karena itu, pemuda memiliki pengaruh sangat besar bagi perubahan bangsa. Hal tersebut juga mestinya terjadi bagi kita perawat pada zaman ini. Para perawat zaman ini hendaknya mengarahkan seluruh pikiran kritis-sistematis dan tindakan penuh cinta akan kebijaksanaan, sebagaimana amanat filsafat.

Tulisan dengan judul, “Lentera Filsafat di Tangan Perawat, merupakan sebuah refleksi dan motivasi bagi para perawat tentang pentingnya filsafat bagi kehidupannya sekaligus menjadi tanggung jawab untuk menerapkan cinta dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas dan tuntutannya.

Sekilas Keperawatan dan Filsafat

Florence Nightingale (1895) Mendefinisikan keperawatan sebagai cara menempatkan pasien dalam kondisi paling baik dengan lingkungan dan situasi yang terbaik. Florence Nigtingale mengamati fenomena bahwa pasien yang dirawat dengan keadaan lingkungan yang bersih ternyata lebih cepat sembuh dibanding pasien yang dirawat dalam kondisi lingkungan yang kotor. Hal ini membuahkan kesimpulan bahwa perawatan lingkungan berperan dalam keberhasilan perawatan pasien. Yang kemudian menjadi paradigma keperawatan dalam konteks lingkungan.

Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu yang mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, melalui pengkajian mendasar tentang hal-hal yang melatar belakangi, serta mempelajari berbagai bentuk upaya untuk mencapai kebutuhan dasar tersebut melalui pemanfaatan semua sumber yang ada dan potensial. Hakikatnya ilmu keperawatan adalah mempelajari tentang respon manusia terhadap sehat dan sakit yang difokuskan pada kepedulian perawat terhadap tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pasien atau disebut dengan care.

Filsafat berbicara tentang cinta akan kebijaksanaan. Cinta akan kebijaksaaan itu terungkap dalam perkataan dan perbuatan, tetapi lebih dari itu harusnya menjadi dasar cara berpikir dan merasakan. Dengan belajar Filsafat, seorang perawat dituntut untuk menumbuhkan dalam dirinya suatu kecenderungan untuk penuh dengan cinta dan kebijaksanaan. Melalui kecenderungan ini, perawat sedapat mungkin menjadi lentera yang bernyala bagi para pasien yang sedang sakit. Cinta dan kebijaksanaan itu menjadi sentuhan dan terang yang membangkitkan gairah para pasien untuk berusaha sedapat mungkin menumbuhkan kesehatannya.

Dalam filsafat kita membahas tentang hakikat realita atau dasar dari segala yang ada, baik berbentuk jasmani atau konkret maupun rohani atau abstrak. Artinya setiap disiplin keilmuan termasuk pengetahuan ilmiah memiliki obyek forma dan obyek material yang menjadi wujud dan fokus penelaahnya, yang seharusnya berbeda dari obyek forma dan obyek material disiplin keilmuan lainnya.

Baca Juga:  Sudah Kantongi Ijin, Klinik King Care Berharap Dinkes Pertimbangkan 3 Hal

Ontologi; menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.

Jadi, ontologi keperawatan yaitu ilmu di mana kita mempelajari sesuatu sesuai dengan yang ada, berdasarkan bukti yang konkret. Yang berdasarkan ilmu keperawatan itu sendiri. Byek forma adalah cara pandang terhadap sesuatu, misalnya bahwa perawat memandang masalah kliennya berfokus pada tidak atau kurang adekuatnya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan kesehatan potensial ataupun kesehatan aktual.

Obyek material adalah substansi dari obyek forma, misalnya obyek formanya adalah klien dengan masalah gangguan pernapasan, maka obyek materialnya adalah saluran pernapasan, oksigen, karbondioksida dan sebagainya. Dengan mempelajari ontologi ini, seorang perawat seharusnya memandang usaha-usaha keperawatan sebagai cara untuk membaktikan diri secara utuh atau sebagai cara untuk berada. Maksudnya, dengan memahami ontologi dalam filsafat, seorang perawat hendaknya melihat segala usaha dalam keperawatan sebagai panggilan untuk melayani dan memberikan diri secara total bagi kesembuhan para pasien.

Epistemologi keilmuan keperawatan secara rinci dapat dilihat dari aspek-aspek sifat, proses dan fungsi pengetahuan keperawatan ilmiah yang telah diperoleh dan tersusun secara rasional, logis, dan sistematis. Pengetahuan keilmuan bidang keperawatan yang diperoleh dan disusun sedemikian rupa memiliki fungsi yang jelas bagi dunia keilmuwan untuk mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksikan, serta mengontrol gejala atau fenomena bio-psiko-sosial-kultural-spiritual manusia sebagai individu, keluarga dan kelompok dalam kaitan dengan tujuan kesehatan dan kesejahteraan yang optimal bagi mereka.

Epistemologi dalam keperawatan digunakan untuk mencari kejelasan yang lebih baik, menentukan Tindakan yang paling efektif dan efisien untuk diberikan kepada klien. Sehingga dibutuhkan cara berpikir yang rasional. Menurut Ricetto dan Tregoe (2001) pada buku berjudul Analytical Processes for School Leaders, berpikir secara rasional adalah kemampuan untuk mempertimbangkan aspek dan menganalisis relevansi informasi yang berhubungan dengan suatu kejadian, baik yang berupa fakta, opini, maupun data.

Aksiologi keilmuan menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah: baik internal, eksternal, maupun sosial. Baik nilai-nilai yang berkaitan dengan wujud maupun kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuannya. Hal ini sangat tergantung dari manusia yang menggunakannya. Dalam hal ini keperawatan selalu berupaya untuk menggembangkan diri kearah professional .Wujud penggembangan ilmu keperawatan mencakup dua hal penting, yakni bidang pendidikan dan latihan serta bidang praktik keperwatan.

Baca Juga:  Indonesia Rugi 56 Triliun Gara-gara Toilet

Penggembangan ilmu keperawatan dalam bidang pendidikan diwujudkan melalui pendidikan berkelanjutan serta pendidikan dan latihan khusus di bidang praktik keperawatan. Pengembangan ilmu keperawatan bidang pendidikan dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas layana keperawatan yang dilandasi keilmuan serta sikap professional yang dilandasi oleh kaidah etik proesi dan standar praktik keperawatan yang berlaku. Ini karena keperawatan tidak hanya sekedar ilmu tapi juga praktik.

Contohnya : Seorang perawat yang harus mengerti tugasnya sebagai seorang yang berprofesi sebagai perawat . Serta seorang perawat harus memiliki nilai- nilai dan moral terhadap semua pasien yang di rawatnya.

Lentera Filsafat di Tangan Perawat

Filsafat itu sangat penting dalam keperawatan. Dikatakan penting, sebab dengan berfilsafat orang akan mempunyai pedoman untuk berpikir, bersikap, dan bertindak secara sadar dalam menghadapi berbagai gejala – peristiwa yang timbul dalam alam dan masyarakat. Maksud dari kutipan ini adalah agar kita mempunyai kesadaran, yang membuat kita tidak mudah digoyahkan dan diombang-ambingkan oleh timbulnya gejala-gejala, peristiwa, dan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Namun sayangnya, kebanyakan kita tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian kita hampir tidak pernah berpikir. Padahal filsafat mampu mendorong saya dan semua perawat untuk merefleksikan kejadian dan peristiwa hidup secara kritis dan sistematis, dengan mencari akar penyebabnya dan semua yang nampak (yang mempunyai bentuk) harus dicari isinya atau dasarnya.

Artinya semua masalah harus bisa dipecahkan (atau diberi jawabannya). Jika saat ini belum bisa dipecahkan (diberi jawabannya), maka harus dicari terus-menerus pemecahannya (jawabannya). Dengan cara demikian, sebagai perawat, kemampuan dan kompetensi kita terus diperbaharui dan ditingkatkan.

Pada situasi sekarang ini, dengan mempelajari filsafat, didapatkan pengetahuan yang murni atau kemajuan pengetahuan di bidang pelayanan keperawatan untuk dapat diaplikasikan demi kesembuhan pasien dengan didasarkan pada premis-premis pendukung. Namun, faktanya kita kurang mencari tahu, kurang membaca, kurang membuka diri untuk menerima ilmu yang baru. Di lapangan kita masih menganggap bahwa pelayanan keperawatan sekedar rutinitas.

Terkadang kita lebih fokus pada hal-hal yang bersifat kolaboratif, dengan mengesampingkan hal-hal yang bersifat mandiri, kurang memberikan asuhan keperawatan secara holistik yang meliputi dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual.

Baca Juga:  Indonesia Rugi 56 Triliun Gara-gara Toilet

Ilmu Keperawatan yang merupakan sebuah disiplin ilmu yang mempunyai body of knowledge yang spesifik hingga akan selalu mengalami perkembangan. Diperlukan pemahaman yang baik pada teori keperawatan untuk dapat membedakan keperawatan dari disiplin lain, di mana berbagai teori ini memiliki tujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan hasil yang diinginkan dari praktik asuhan keperawatan. Praktek keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan sistem pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang-undangan keperawatan (Nursing Act), di manapun perawat bekerja (PPNI, 2000).

Melihat dari kenyataanya dalam praktik keperawatan, maka ilmu filsafat sangatlah penting dan perlu dikuasai oleh seorang perawat. Karena sangat tidak menutup kemungkinan seorang perawat dalam menjalankan tugasnya menghadapi persoalan-persoalan sebagai dilema yang sangat sulit dipecahkan. Oleh karena itu perawat haruslah mampu menguasai ilmu filsafat itu sendiri untuk menunjang dalam kecepatan dan ketepatan berfikir dan bertindak.

Dengan mempelajari filsafat, para perawat sedapat mungkin berusaha mencari tahu dan menggali akar penyebab buruknya kesehatan para pasien. Selain itu yang paling penting adalah para perawat mempraktekkan amanat filsfat yaitu untuk mencintai kebijaksanaan yang nampak dalam tindakan yang oenuh cinta terhadap pasien. Cinta yang ditampilkan para perawat menjadi lentera yang menerangi penderitaan dan kekalutan para pasien yang sedang sakit. Cinta itu adalah cahaya lentera yang tidak pernah padam untuk memberikan diri secara total bagi pelayanan di tempat pengabdian. Cinta itu menjadi dasar dan cahaya harapan bagi para pasien yang sedang sakit.

Penutup

Filsafat sebagai sebuah panggilan untuk mencintai kebijaksanaan menjadi sangat penting bagi pelayanan para perawat dalm tugas dan pengabdiaanya. Dengan mempelajari filsafat, para perawat diarahkan untuk berpikir kritis-sistmatis sekaligus menunjukkan cinta akan kebijaksanaan. Inilah yang disebut sebagai lentera filsafat di tangan perawat. Cahaya cinta yang menerangi kehidupan para pasien.

*Anuncyata Serhe adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan prodi S1, kelas Alih jenjang 8 Semester 1 Keperawatan Universitas Citra Bangsa

Daftar Referensi

I Gusti Bagus Rai Utama, MA. 2013. Filsafat Ilmu dan Logika. Bandung: Universital Dyana Pura

Prawironrgoro, Darsono. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: Nusantara Consulting

Rasheed, Ashiyath. 1999. History And Philosophy Of Nursing. Maladewa: Fakultas Ilmu Kesehatan.

Wahana, Paulus. 2016. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Diamon

Komentar