oleh

Literasi Cermin Kualitas Diri : Mindset dan Atitude

Selamat memperingati Hari Buku Nasional, 17 Mei 2021. Mari bersama tingkatkan  literasi dan minat baca dari desa.

Oleh : RHAY JADHA, Anggota Ipelmen Kupang, 18 Mei 2021

Literasi pada dasarnya adalah kemampuan dasar anak dalam membaca, menulis, menghitung menganalisis dan memahami untuk menunjang pendidikan dan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, berpikir kritis dan  berpengaruh pada mindset serta pembentukan karakter.

(sumber, KSD : Rumah Baca Ngai Sia Rede Mbara, Mukusaki)

Saat ini program literasi sudah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat untuk meningktakan kualitas sumber saya manusia yang baik. Literasi harus menjadi perhatian dan kepedulian semua pihak jika melihat latar belakang ketertinggalan SDM dan juga rendahnya minat baca masyarakat.

Kompas.com merilis riset yang bertajuk world’s most literature nations ranked university (2016), Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara untuk kategori minat baca dan mengutip halaman Kementrian Dalam Negeri (Maret 2021), Indonesia menempati posisi ke-62 dari 70 negara untuk masalah tingkat Literasi.

Baca Juga:  Berdaya Dengan Buku

Berdasarkan data tersebut sangat nyata bahwa tingat literasi dan minat baca kita masih sangat rendah. Masalah literasi ini sangat mendasar dan menjadi perhatian semua pihak untuk memperbaikinya.

Berbicara tentang literasi kita berbicara tentang perubahan/perbaikan mindset pada masyarakat kita. Perubahan cara pandang ke arah yang lebih baik akan menunjukan sebuah peradaban pengetahuan untuk mengubah, baik kehidupan sosial budaya maupun karakter diri.

Literasi sangat penting bagi kehidupan saat ini karena kita ditantang oleh perubahan global yang sangat cepat dalam hitungan detik. Jika kita tidak memiliki kemampuan yang cukup dan mindset yang masih tertinggal maka kita akan lamban menyesuaikan dengan perubahan- perubahan saat ini.

Baca Juga:  4 Keunikan Acara Pelantikan FTBM Sabu Raijua, Nomor 1 Dan 4 Paling Berkesan
(sumber, Rumah Baca Sukacita Ende)

Kemajuan teknologi (adanya sosial media) menjadi salah satu faktor yang berdampak pada rendahnya literasi masyarakat, khususnya kaum muda. Kita sering melihat sangat jarang  anak- anak sekarang ini memiliki rasa suka pada membaca, apalagi membaca buku-buku yang merupakan dasar dari kemampuan literasi.

Menjadi pertanyaan bersama apakah yang menjadi kendala dalam meningkatkan litersi ini ?

Bagaimana mengatasinya?

Dilansir dari fin.co.id, NTT termasuk pada salah satu dari 34 provinsi yang memiliki presentase minta baca dan  literasi terendah (10,13 %). Rendahnya minat baca dan literasi ini tidak hanya semata-mata disebabkan oleh ketidakmampuan anak, tetapi ada faktor-faktor lain seperti ketersediaan fasilitas yang kurang memadai seperti ruang baca, perpustakaan ataupun fasiltas di taman baca/rumah baca masyarakat di desa-desa. Keterbatasan buku-buku dan juga fasilitas tersebut juga berdampak besar bagi  literasi dan minat baca kaum muda dan anak- anak.

Baca Juga:  Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang Dukung YASPORA Bangun Literasi di NTT
(sumber, KSD Mukusaki)

Kekurangan tersebut menyebakan minimnya pengetahuan mengenai buku-buku sebagai sumber informasi. Keterbatasan perlu diatasi atau diperbaiki bersama oleh semua pihak demi kepedulian terhadap pendidikan dan kemampuan kaum muda sebagai  generasi penerus dan harapan masa depan.

Pemerintah harus berkolaborasi dengan semua pihak seperti, organisasi kepemudaan, organiasasi mahasiswa,  LSM  dan pihak-pihak lain agar dapat memperbaiki kualitas minat baca dan literasi di NTT. Pemerintah juga harus membuka ruang lebih banyak untuk berdiskusi dengan pihak- pihak tersebut mengenai literasi dan minat baca. Berbagai pendekatan harus dilakukan bersama untuk mengembangkan budaya literasi yang baik dan berkelanjutan.

Mari bersama kita tingkatakan literasi dan minat baca kaum  muda di NTT mulai dengan gerakan literasi dari desa- desa.

Komentar