oleh

Ojol Mengamuk di Markas Debt Collector, GARDA NTT Angkat Bicara

-Nasional, News, NTT-499 views

“Kami menyayangkan bentrok antara Ojol versus Debt Collector yang terjadi kemarin di Sawah Besar. Kita sedang dalam usaha besar untuk keluar dari pandemi Covid-19, karena itu hal-hal yang seperti ini tidak seharusnya terjadi di tengah pemberlakuan PPKM oleh pemerintah.”

Editor : ARDI LEO DU, 7 Juli 2021

BINTANGFLOBAMORA.Com, Jakarta – Sejumlah pengemudi ojol terlibat bentrokan dengan kelompok Mata Elang atau debt collector  di Jalan Mangga Besar Raya, Sawah Besar, pada Selasa (6/7/2021). Peristiwa di kantor leasing Victory yang merupakan markas debt collector tersebut viral di media sosial.

Dalam rekaman berdurasi 18 detik memperlihatkan pengemudi ojol menutup sebagian jalan. Kedua kelompok ini terlihat saling lempar serangan hingga membuat arus lintas tersendat.

Bentrokan itu mendapat respon dari sejumlah pihak tidak terkecuali Genta Patriot Muda Nusa Tenggara Timur (Garda NTT) Jakarta.

Dalam keterangan resmi yang diterima media (Rabu,7/7/2021), Garda NTT melalui Ketua DPP Bidang Advokasi, Onkari On Manimabi menyayangkan bentrok yang terjadi, terutama di tengah situasi PPKM yang sedang diberlakukan pemerintah.

Ketua DPP Bidang Advokasi, Onkari On Manimabi atau akrab disapa Beka (tengah berbaju putih) bersama pengurus Garda NTT Jakarta

“Kami menyayangkan bentrok antara Ojol versus Debt Collector yang terjadi kemarin di Sawah Besar. Kita sedang dalam usaha besar untuk keluar dari pandemi Covid-19, karena itu hal-hal yang seperti ini tidak seharusnya terjadi di tengah pemberlakuan PPKM oleh pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, pria yang akrab disapa Beka ini mengimbau semua pihak untuk tidak mudah terprovokasi dengan segala informasi yang beredar.

“Melihat dan mengamati situasi yang terjadi kemarin di Sawah Besar, serta mendengar keterangan dari pihak kepolisian, masalah terjadi karena ada kesalahpahaman antar kedua belah pihak,”

Baca Juga:  Perjuangan Nani Welkis Menghadapi YT

“Karena itu kami menghimbau kepada semua pihak agar membiasakan diri memfilter terlebih dahulu semua informasi yang diterima sebelum membuat keputusan. Harus cek dulu, ini benar atau tidak”, imbuhnya.

Beka juga menengarai adanya provokasi yang menjadi penyebab terjadinya peristiwa pengeroyokan itu. Sebab dari beberapa video yang beredar, pengakuan dari para ojek grab yang berada di lokasi kejadian usai peristiwa itu, bahwa diduga ada salah paham antara pekerja leasing Victory dengan warga yang melintas di daerah itu. Bukan pekerja Victory dengan pihak ojol.

“Kejadian itu meledak ketika ada provokasi dari sesama ojol yang datang belakangan dengan menebarkan narasi hoax bahwa ada penarikan motor secara paksa oleh pihak leasing Victory. Padahal narasi penarikan motor itu hanya kabar bohong yang sengaja dihemburkan,”

“Sayangnya, para driver ojol yang telah termakan hoax langsung melakukan pengeroyokan terhadap pekerja dan pengerusakan kantor leasing Victory yang ada di kawasan Mangga Besar tersebut,” katanya.

Beka telah memastikan kepada pihak korban pengeroyokan bahwa penyebab keributan itu bukan karena penarikan paksa kendaraan bermotor tetapi akibat kesalahpahaman dan hoax yang dihembuskan.

Memenuhi Unsur Pidana

Menurutnya, tindakan driver ojek online Grab yang main hakim sendiri akibat termakan hoax sudah memenuhi unsur pidana yaitu tertuang dalam KUHP pasal 170 dengan ancaman kurungan maksimal 5 tahun kurungan.

“Pasal 170 KUHP menjelaskan setiap pelaku yang melakukan perbuatan tindak pidana pengeroyokan secara terang-terangan diancam pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan”, ujar Beka.

Baca Juga:  Pengakuan Kakak Kandung, Sebelum Hilang dan Meninggal, Nani Welkis Dijemput Sosok Tak Dikenal

Dikatakannya, tindak pidana pengeroyokan tersebut telah memenuhi syarat- syarat sebagai perbuatan kejahatan yang bertentangan dengan Undang–Undang.

Karena itu ia menghimbau kepada komunitas ojek online untuk tidak melakukan perbuatan pelanggaran hukum atau melakukan pengeroyokan terhadap orang yang belum tentu bersalah. Karenanya, ia meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus ini agar tidak membias.

Lebih lanjut dia mengatakan, akibat dari peristiwa ini timbul keresahan dikalangan masyarakat atas tindakan para pengemudi ojek online yang main hakim sendiri.

“‎Ini negara hukum, tidak diperbolehkan main hakim sendiri. Apalagi terjadi diawali hanya oleh praduga yang belum jelas,” pungkas Beka.

Debt collector Perlu Dilindungi

Ketua Umum Garda NTT Wilfridus Yons Ebit memberikan keterangan pers kepada media di Jakarta

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Garda NTT Wilfridus Yons Ebit menegaskan bahwa keberadaan debt collector penting dalam menjaga keberlangsungan perekonomian suatu negara, karena itu debt collector harus ditempatkan dalam posisi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Kecenderungan kita adalah melihat debt collector dari sudut pandang negatif. Ini menjadi tugas kita semua, termasuk juga Garda NTT untuk selalu memberikan edukasi kepada seluruh masyarakat bahwa keberadaan debt collector juga penting dalam menjaga perekonomian kita,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta itu.

Ia meminta agar pemerintah memperhatikan secara khusus profesi debt collector.

“Profesi ini cukup penting sebenarnya, sehingga Garda NTT meminta pemerintah memberikan perhatian khusus kepada profesi ini agar dilindungi secara hukum dan mendapat tempat di hati masyarakat. Ini juga salah satu fokus perjuangan Garda NTT.”

Baca Juga:  10 Ton Bantuan Garda NTT-Jakarta Diterbangkan Hari Ini Ke Lima Kabupaten

Garda NTT Desak Perusahaan Ojol Tertibkan Drivernya

Ia juga mendesak agar perusahaan ojek online (ojol) grab memberi sanksi dan menertibkan drivernya yang menciptakan keonaran hingga pengeroyokan di jalanan.

“Penertiban penting, agar perusahaan jasa ojek online tidak semena-mena terhadap orang lain. Apalagi mereka merasa dalam jumlah yang banyak,” ujar Ebit melalui pesan singkat kepada media ini.

Menurut Ebit, jika suatu organisasi perusahaan yang melibatkan ribuan pekerja dilapangan, maka itu berarti potensi menciptakan keributan dilapangan sangat mungkin terjadi.

Oleh karena itu, ia menegaskan perusahaan jasa ojek online (ojol) wajib menertibkan anggotanya agar tidak terjadi kasus main hakim sendiri di masa depan.

“Jangan sampai keganasan ojol ini terus berulang dan bisa menimpa masyarat lain. Apalagi ditengah situasi pandemi ini,” tutupnya.

Masih Didalami Pihak Kepolisian

Kapolsek Sawah Besar Kompol Maulana Mukarom

Kapolsek Sawah Besar Kompol Maulana Mukarom mengatakan, pihaknya masih mendalami pemicu kedua belah pihak terlibat bentrok. Beberapa saksi sedang dimintai keterangan.

“Untuk permasalahan ini sedang kita dalami ada beberapa saksi-saksi sudah kita amankan dibawa ke Polsek Sawah Besar sedang kita dalami terkait kejadian tersebut, siapa berbuat apa permasalahannya yang pasti situasi sudah kondusif,” ujar dia.

Maulana juga mengimbau kepada para pihak yang dirugikan untuk membuat laporan polisi (LP) di Polsek Sawah Besar Jakpus. Dia menyakini akan memproses laporan secara profesional.

“Tadi kita juga sampaikan kedua belah pihak agar kedua belah pihak apabila ada korban silakan membuat laporan di Polsek Sawah Besar, akan kita tangani dengan profesional,” jelasnya.

Komentar