oleh

Pengunaan Frekeuensi Publik Yang Tidak Sesuai Dengan Porsi pada Kecelakaan Vanessa Angel dan Suami

Frekuensi publik yang nampak selalu di banjiri oleh informasi tersebut, apakah media massa yang mengikuti keinginan masyarakat ?

Oleh: Oktovianus O.B Ariana, Alumni FH Undana Kupang

BINTANGFLOBAMOMORA.COM, Hampir sepekan ini masyarakat di kagetkan dengan peristiwa kecelakaan yang menimpa Vanessa Angel beserta Suami dan anak, Di Tol Nganjuk, Jawa Timur, pada tanggal (14/11/2021), peristiwa tersebut menimbulakn rasa sedih dari dari banyak orang, akibat dari kejadian nahas tersebut merenggut nyawa pasangan Publik Figur tersebut. Sebagai seorang manusia tentu saya turut berduka yang sangat mendalam.

Banyak masyarakat Indonesia yang membicarakan tentang hal tersebut, dari penjual sayur di sudut pasar, anak-anak yang kecil di tengah permainan mereka dan Publik Figur yang selalu mengihasi layar kaca, tentu kejadian kecelakaan lalu ilntas yang merenggut nayawa orang, bukan kejadian pertama Di Indonesia namun kali ini, menjadi sangat viral karena dialami oleh Publik Figur.

Setelah beberapa hari kejadian tersebut ada hal yang meresahkan pikiran saya dan mungkin beberapa orang, banyak sekali media baik cetak, elektronik maupun media sosial yang mengulas tentang kejadaian tersebut, ada pernyataan yang masi bisa di terima nalar ada pernyataan yang menurut saya kesannya berlebihan. Sebagai Publik Figur tentu Vanessa dan Suami memiliki Privilelege dan antesi dari banyak orang, atas rangkaian peristiwa tersebut kesannya media massa dan masyarakat berlebihan dalam menyikapi hal tersebut.

Pada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran, Pasal 36 ayat (1) “isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak moral, kemanjuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia”.

Berdasarakan isi Undang-undang tersebut sungguh alangkah ideal dan indahnya fungsi dari penyiaran itu sendiri, tetapi jika suatu berita di tempatakan dalam frekuensi publik tentu harus sesuai dengan porsi, jika berlebihan maka publik akan kekenyangan akan suatu jenis informasi saja dan bisa menyebakan gagal mencerna inforamsi secara baik.

Frekuensi publik yang nampak selalu di banjiri oleh informasi tersebut, apakah media massa yang mengikuti keinginan masyarakat ? atau masyarakat yang tidak punya alternatif informasi lain ? tentu kedua pertanyaan tersebut sebagai pertanyaan refeleksi yang cukup panjang.

Banjir bandang menerjang Malaipea, Kabupaten Alor (Foto: iNews TV/Danny Manu)

Seperti yang dilansir dari iNews.id terdapat bencana banjir bandang di Kabupaten Alor NTT pada Rabu (3/11/2021) yang menyebabkan sejumlah rumah rusak dan puluhan hektar sawah rusak, seolah luput dan tengelam dari perhatian publik.

Peristiwa tersebut membuat kesulitan baru bagi masyarakat disana, sumber kehidupan mereka rusak di terjang banjir, segala aktivitas terhenti, ada kesedihan yang terbentuk, ada luka yang timbul, ada kekahwatiran yang selalu terhinggap di pikiran, Apakah bencana alam tersebut harus terjadi di Jakarta atau Kota-kota besar lainnya baru bisa menarik perhatian publik ? Apakah kesedihan dan kesusahan masyarakat Alor berbeda dengan kesedihan publik figur ? tentu relung hati terdalam kita, punya jawabanya.

Selama ini pola pemberitaan dan serta perhataian publik terhadap suatu peristiwa seperti mengisyaratkan bahwa terjadi ketimpangan antara peristiwa yang dialami publik figur dan masyarakat biasa, seperti ada ketimpanagan anatara daerah terpencil dan Kota besar.

Kesan ketimpangan informasi ini semoga tidak terus berlanjut, dan frekuensi publik bisa digunakan sebagai sarana yang yang bisa selalu menjangkau tiap jengkal bahkan Mili meter dari setiap sudut negeri.

Komentar