oleh

Program GIM Wujudkan Ende Sebagai Kabupaten Literasi dan Kembalikan Citra Kota Pelajar

-News, NTT, Pendidikan-114 views

“Indikator kota pelajar adalah kota yang memiliki warga yang literat”

BINTANGFLOBAMORA.COM, Ende – Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai salah satu dari 10 kabupaten di Indonesia untuk mencanangkan program Gerakan Indonesia Membaca (GIM).

Pencanangan tersebut resmi dilakukan pada, Sabtu (16/10/2021) di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Ende.

Hadir dalam kesempatan itu, Asisten 1 Setda Ende, Abraham Badu yang mewakili Bupati  Ende, Dr Untung mewakili Direktur Pendidikan Masyarakat, Pendidikan khusus Ditjen PAUD Kemendikbudristek, Kepala Disdikbud Kabupaten Ende, Mensi Tiwe, Ketua  FTBM Provinsi  NTT, Polikarpus Do, Ketua FTBM Ende, Umar  Hamdan, pegiat literasi, pengelola TBM, penulis dan stakehokder terkait.

Bupati Ende : Rendahnya Literasi Biang Timbulnya Banyak Masalah

Dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Setda Kabupaten Ende, Drs. Abraham Badu, Bupati Ende, Drs Djafar Achmad mengajak semua komponen baik pribadi maupun keluarga dan juga masyarakat untuk membangun budaya literasi di bumi Pancasila.

Djafar mengatakan, banyak dampak negatif yang ditimbulkan akibat rendahnya budaya literasi.

“Tingginya angka putus sekolah, meningkatnya angka buta aksara, meluasnya kemiskinan, meningginya angka kriminalitas, rendahnya produktifitas kerja serta kurangnya sikap bijak dalam menyikapi berita bohong adalah contoh masalah dari rendahnya budaya literasi,” kata Djafar.

Baca Juga:  KOMPAS Bertekad Bangun Rumah Literasi Alam di Kota Kupang

Ia menegaskan, pencanangan GIM menjadi awal yang baik untuk mengkampayekan, membudayakan kebiasaan membaca pada masyarakat Kabupaten Ende.

“Mari kita mulai dengan bilik literasi, pojok literasi  dan tingkatkan budaya baca,” ajak Djafar.

Membumikan Literasi Di Kabupaten Ende

Kepala Disdikbud Kabupaten Ende, Mensi Tiwe mengatakan  bahwa pemerintah kabupaten Ende menyambut baik GIM yang merupakan program dari kemendikbudristek. Kata Mensi, pihaknya bersama FTBM Ende telah bekerja menggerakan literasi jauh hari sebelum program  ini.

“Kita kerja sudah  satu tahun yang  lalu tetapi terbatas  karena  Covid-19. Taman Bacaan Masyarakat ( TBM) mulai terbentuk meskipun  ada yang belum  yang terdaftar,” katanya.

Mensi mengatakan bahwa  tindak lanjut dari pencanangan GIM ini adalah  mengajak seluruh stakehokder untuk bergerak membumikan literasi di Kabupaten  Ende. Formulasi tindakan lanjut dari kegiatan ini sudah disiapkan yakni rencana induk pengembangan literasi di Ende.

Menurut  Mensi, salah satu target yang akan dilakukan dan dicapai adalah mendorong pembentukan TBM di setiap desa.

“Kegiatan pencanangan ini difasilitasi oleh Kementerian. Setelah pencanangan kita harus bergerak mengacu pada rencana  induk pengembangan  literasi  yang telah disusun bersama oleh  pemerintah  dan seluruh  pegiat literasi  di Ende. Target kita itu adalah  satu desa satu TBM. Keseimbangan antara pendidikan formal  dan non formal mesti dilakukan untuk mewujudkan Ende pintar, Ende juara dan Ende Berbudaya,” katanya.

Baca Juga:  Janji 1000 Buku, Kepala LPMP Kejutkan FTBM NTT

GIM Upaya Kurangi Buta Aksara

Widya Prada Ahli Muda pada Direktorat  Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Dikjen PAUD, Dikdas dan Dikmen Kemendikbudristek, Dr. Untung mengatakan Provinsi NTT menjadi penyumbang buta aksara nomor tiga di Indonesia dengan presentase mencapai 4,24 persen di bawah Provinsi Papua yang menempati nomor urut satu serta Provinsi NTB di nomor urut dua.

“Secara keseluruhan Indonesia masih termasuk anggota negara ekonomi sembilan yaitu negar–negara yang jumlah penduduk yang paling besar di dunia tetapi masih memiliki penduduk buta aksara,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS)pada tahun 2020, jumlah buta aksara masyarakat Indonesia pada rentang usia 15 – 59 tahun berada pada angka 2,9 juta orang atau 1,71 persen. Sementara di Kabupaten Ende, jumla buta aksara berada di atas rata-rata nasional yakni 3,42 persen dari jumlah penduduk.

Dr. Untung mengatakan program atau kegiatan  GIM adalah salah satu strategi untuk mengurangi angka buta aksara, maka setelah pencanangan  ini pemerintah daerah harus menindaklanjuti.

“Kita apresiasi pemerintah Kabupaten  Ende yang sangat antusias menerima program  ini dan telah bekerja  bersama seluruh pegiat literasi di Ende. Kegiatan  ini mesti terus digemakan dan mengajak partisipasi masyarakat dalam mengembangkan budaya baca sebagai bagian  dari literasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Genjot Literasi di Sekolah Alam Manusak, FTBM NTT Donasikan Ratusan Buku

Ende Jadi Kabupaten Literasi, Kembalikan Citra Kota Pelajar

Kepada media Bintangflobamora.com (Kamis/21/10/2021), Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Provinsi NTT, Polikarpus Do mengatakan, pencanangan GIM selain untuk memerangi tingginya angka buta aksara di NTT dan Indonesia,  tetapi juga merupakan langkah awal menuju Endè kabupaten  literasi.

Polikarpus berharap setelah kegiatan  ini mesti ada tindak lanjut ke masyarakat mulai dari kecamatan hingga desa. Ia juga menyinggung, semua pihak harus bekerja keras mengembalikan Ende sebagai Kota Pelajar. Menurutnya, indikator kota pelajar adalah kota yang memiliki warga yang literat.

“GIM adalah langkah baik untuk mewujudkan masyarakat kabupaten Ende yang literat. Harus ada upaya dan kesadaran untuk mengembalikan kota Ende sebagai kota pelajar yang didalamnya memiliki warga yang cakap literasinya,”

“Untuk itu, butuh kolaborasi. Semua energi dari tingkat kecamatan, desa hingga RT/RW dan dusun harus masuk dalam gerakan bersama membangun budaya literasi di seluruh wilayah Ende Lio Sare Pawe,” ucap Polikarpus.

Komentar