oleh

Protes Warganet Hingga Para Arsitek Terhadap Pradesain Istana Negara Yang Baru

-Nasional, News-1.069 views

BINTANGFLOBAMORA.Com, Nasional – Beredarnya video pradesain burung Garuda Istana Negara yang diunggah oleh Nyoman Nuarta lewat akun Instagramnya @nyoman_nuarta menuai tanggapan beragam dari berbagai kalangan masyarakat.

Rencananya Istana Negara di Ibu Kota Baru, Kalimantan Timur akan dibangun di atas lahan seluas 32 hektar. Bangunan inti Istana Negara seluas empat hektar didesain berbentuk burung Garuda dengan tinggi sembilan lantai.

Dari bocoran yang disampaikan seniman asal bali tersebut, selain bangunan inti, dalam kawasan Istana Negara akan terdapat Plaza Nusantara seluas 10 hektar meliputi, area rekreasi, area duduk outdoor, jogging trek, jalur pejalan kaki, serta jalur buggy. Turut dirancang pula amphiteather serta wilayah terbuka agar rakyat bisa mengakses dengan bebas.

Banyak warganet yang memberikan reaksi positif, namun adapula yang memberikan kritik. Mereka menilai, desain burung Garuda tidak cocok untuk Ibu Kota Negara.

“Bangunan istana tidak cocok sama sekali malah terkesan norak pak. Maaf sebelumnya!” tulis akun @tribudianto53.

Hal senada juga diungkapkan oleh warganet lainnya. Desain itu dianggap norak.

“Maaf pak, agak norak desain pak, kayak sayap burung kena lem,” kata akun @gamananta123.

Selain dari warganet, protes terhadap pradesain Istana Negara juga datang dari para arsitek dan pemerhati bangunan.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, I Ketut Rana Wiarcha, mengatakan perlu adanya pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan, agar menciptakan rasa kepemilikan masyarakat terhadap keberadaan Ibu Kota Negara yang baru.

Ketut menjelaskan, terkait dengan publikasi melalui Instagram Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, mengundang munculnya kegelisahan dari para anggota lintas asosiasi profesi, mulai dari bentuk istana yang berupa burung garuda hingga secara teknis yang tidak mencirikan pembangunan rendah karbon nan cerdas.

“Bangunan istana negara berbentuk burung Garuda atau menyerupai Garuda merupakan simbol di dalam bidang arsitektur tidaklah mencirikan kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era digital,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang dilansir detik.com.

Secara arti yang direpresentasikan melalui gedung patung burung tersebut tidak mencerminkan upaya pemerintah dalam mengutamakan forest city atau kota yang berwawasan lingkungan.

Sebab itu, pihaknya dalam lintas asosiasi ini merekomendasikan bentuk Garuda disesuaikan untuk menjadi monumen atau tugu yang menjadi landmark. (AGN)

Baca Juga:  Pembelaan Jokowi Terhadap Pradesain Garuda Istana Negara

Komentar