oleh

Puisi Dewi Lorenza dan Wela Runu Meriahkan Puncak Festival HAN 2021

-News, NTT-848 views

“Dalam balutan busana adat Lawo Lambu Ende Irene Dewi Lorenza dan Emilia Kristi Wela Runu dua putri kelahiran Manggarai ini dengan suara lantang mempersembahkan karya puisi kepada peserta webinar dalam ruang zoom meeting

Oleh: ARDI LEO DU, 28 Juli 2021

BITANGFLOBAMORA.COM, Kota Kupang – Memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2021, Forum TBM Kabupaten Ende bekerja sama dengan YASPORA NTT dan didukung oleh Forum Taman Bacaan Masyarakat NTT menyelenggarakan webinar dengan Tema “Strategi Pemenuhan Hak Anak Dimasa Pandemi” pada 28 Juli 2021.

Sebagai bentuk kerja sama bersama dengan Forum TBM Kabupaten Ende dalam puncak festival literasi hari Anak Nasional 2021, YASPORA NTT menghadirkan dua relawan terbaik untuk melantungkan karya puisi dalam memeriahkan webinar tersebut.

Baca Juga:  Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang Dukung YASPORA Bangun Literasi di NTT

Dalam balutan busana adat Lawo Lambu Ende, Irene Dewi Lorenza dan Emilia Kristi Wela Runu dua putri kelahiran Manggarai ini dengan suara lantang mempersembahkan karya puisi kepada peserta webinar dalam ruang zoom meeting. Berikut adalah puisi-puisi yang dibacakan oleh team relawan YASPORA NTT.

PUISI 1: Dibacakan oleh Irene Dewi Lorenza

Lembar Yang Tak Akan Kosong

(Karya: RHAY JADHA)

Sekilat gledek tanpa damal, butala memuntah kemarahan

dengan jarah tanpa ampun pada insani dunia.

Barangkali kegalatan rakus adalah kami,

Sampai sira lahir dari nafsu birahi tak tau malu

Sehingga namamu membumi dan menakutkan.

“Mungkin saja.”

Seumpama bumi mengamini doa, maka lenyaplah engkau, pintaku!

Sebab, ada rindu untuk bercumbu, melihat senyum merekah insani tanpa topeng .

Ada sepenggal kisah yang ingin kutuang di ruang-ruang yang rumpang.

Ada sejuta tawa yang ingin kupoles dilekuk bibir kering itu

Ada selaksa asa yang harus kuukir di atas kertas yang kau bubuhi debu.

 Aku telah goyah dalam sekejap tapak

Sebab Kini tubuhku harus tiarap

Dalam ruang waktu yang kau tutup rapat.

Haruskah kau kujadikan tolan,

sementara pemangku meringkih kesakitan demi aku harapan bangsa?

Ingat…..kau adalah penjarah atas tubuh ini!

 Tak apa raga ini kau dekap dalam gelap, tetapi tidak dengan pikiran ini

Tak ada  tanya kepada kertas atas pikir yang akan kulantunkan

Tak ku ijinkan bangku belajarku rapuh, tak Kubiarkan meja tulisku berdebu,

Tak perlu kusampaikan panas atas api  pada debu-debu itu

Ingat…tak pernah sejengkalpun kuijinkan lembar harap terbuang kosong.

 

Baca Juga:  YASPORA Ajak Masyarakat NTT Perangi Narkoba Lewat Lomba Menulis Karya Puisi

PUISI 2: Dibacakan oleh Emilia Kristi Wela Runu

Peradaban Baru ; Sapa Tanpa Salam

(Karya: Wela Runu)

 Pasak kunci menjelma dewa,

menyulut meringkih doa jelata imitasi.

Pertiwi meratap di dekap tulah,

mencalang nasib anak negeri

Menjadi puing senantiasa

di bawah pusara tempat akhir

Sejak petaka dikandung Wuhan, Watan beralih haluan,

melahirkan adab pada peradaban baru.

Merenggang jarak pada sapa,

agar salam tak bercumbu raba

Kini tulah meraja oleh virus mahkota

melalap mimpi binasa,

Supaya jangan terjaga sampai hayat mendebu bersama hati tersayat.

Layaknya lilin padam dalam gulita,

melantar mata mati tujuan pada gajak kaki ragu-ragu

Kini tekad merunduk oleh nasib tak menentu.

Pasak kunci menilik tenang dengan gagah lantang bersuara

Sebagai pahlawan penepis kata TUNGKUL pada tulah yang kian bersahabat,

Sembari Membumihanguskan cemas dalam risau

Menepis nyeri di ulu hati agar marah jelata tak sampai ubun-ubun.

Komentar