oleh

Sepak Bola Kembali Menjadi “Mahaguru”, Ketika Liverpool Menang Secara Terhormat Atas ATM

-News, Olahraga, Umum-113 views

“Diego Simeone begitu berapi-api mengeluarkan ekspresi saat timnya mencetak gol. Sayang, pada akhir pertandingan ketika tim besutannya kalah, ia berlari meninggalkan lapangan tanpa salam”

Pelatih ATM, Diego Simeone

BINTANGFLOBAMORA.COM – Tidak mudah memang bagi sebagian orang bisa menerima kekalahan. Apalagi kekalahan itu harus diterima di atas panggung terhormat sepakbola Eropa yang prestisius ini. Untuk hal penting ini, agaknya Diogo Simeone memang harus belajar dari Jurgen Klopp. Bukan karena saya fans Jurgen Klopp. Tetapi begitulah faktanya.

Liverpool dan Jurgen Klopp pernah kalah di panggung final UCL yang disaksikan hampir 3 milyar penduduk bumi. Bahkan  kekalahan itu diwarnai oleh cederanya Mo. Salah karena terkesan dicederai pihak lawan dan juga blunder pemain asuhannya, tetapi Jurgen Klopp tetap meminta seluruh skuadnya berdiri memberi sikap hormat kepada Real Madrid, pada saat penyerahan piala Juara malam itu. Klopp memang marah malam itu, tetapi dia marah pada dirinya sendiri.

Begitulah perjalanan sebuah tim untuk menjadi besar dan hebat. Sikap gentlemen menerima kekalahan, akan membuka hati untuk belajar dari kesalahan. Sikap menerima itulah kuncinya. Dan musim depannya, Jurgen Klopp dan Liverpool membuktikan diri menjadi sang Juaranya. Apakah itu perjalanan yang kebetulan dari segi teknis? Tidak. Itu semua dipersiapkan dengan kerendahan hati.

Dan apa yang kita saksikan malam tadi adalah kembalinya sepakbola menjadi sebuah panggung untuk pembelajaran sebuah sikap dan prilaku . Sepakbola kembali menjadi “Mahaguru” bagaimana semua kita harus berguru dan belajar, bahwa olahraga sepakbola adalah permainan yang penuh dengan pembelajaran adab dan rasa hormat.

Disaat Diego Simeone segera meninggalkan lapangan tanpa mau menyalami Jurgen Klopp, seterunya malam itu, justru Jurgen Klopp yang datang ke bench Altetico Madrid (ATM) disalaminya para asisten Simeone serta beberapa pemain cadangan ATM. Klopp memang kecewa dengan sikap Simeone, tapi dia tidak marah.

Pelatih Liverpool, Jurgen Klop

Apa kata Jurgen Klopp saat merespon sikap Simeone ?

Klopp: “Saya mau menyalami dia. Dia tidak mau menerimanya, mungkin dia marah dengan pertandingan ini, tapi bukan karena hal lain. Nanti kalo kami bertemu lagi di lain waktu, pasti kami akan berjabat tangan.”

Baca Juga:  Turki Masuk Zona Merah Covid-19, Lokasi Final Liga Champions Dipindahkan

Begitulah kerendahan hati seseorang itu. Mengagumkan. Menyejukkan. Begitu hebat Klopp mengemas rasa kecewanya.

Di lapangan, sesungguhnya Liverpool tampil gugup dan tidak bagus di babak pertama. Mereka tidak bermain dengan lepas, terasa benar ada tekanan yang mereka rasakan. Tetapi kesalahan kecil ATM dalam menutup areal, dimanfaatkan Mohamed Salah dengan baik. Akselerasinya menerobos pertahanan ATM yang rapat tapi lengah itu, menghasilkan gol setelah tersentuh ujung sepatu James Milner dan gol.

Para pemain Liverpool merayakan Gol Mohammad Salah ke gawang ATM

ATM gugup juga setelah gol tersebut. Karena kelengahan sekecil itu saja bisa membuat petaka bagi gawang mereka, bahkan bagi kiper sekelas Jan Oblak, salah satu yang terbaik di Eropa saat ini.

Lima menit kemudian, terjadi lagi kesalahan lini belakang ATM, bola sapuan defender Filipe tidak bersih dan mengarah ke arah Naby Keita, tanpa kontrol, dia langsung melakukan tendangan first time dan mengoyak sisi kiri gawang Oblak. Sebuah pukulan telak bagi ATM dan Simeone. Karena bukan hal terbiasa bagi Oblak, gawangnya ditembus dua gol dengan cepat di arena sepenting UCL ini.

Secara taktikal, ATM memang layak dipuji. Cara organisir tim dalam menyerang dan bertahan sungguh mengagumkan. Bertahan dengan 7 pemain membentuk benteng yang rapat, tetapi begitu menyerang, hanya seorang Joao Felix mampu memporakporandakan  sistem pertahanan Liverpool yang selalu rapi. Gerakan Felix yang cepat dan terukur sangat merepotkan.

Bagaimana ATM menyerang setelah kebobolan dua gol, adalah buah dari bagusnya mereka menekan lini tengah Liverpool. Tanpa Fabinho yang berada di bench, lini tengah Liverpool sulit bertarung dengan ATM yang silih berganti secara teratur menekan Liverpool. Dua tiga pemain langsung menekan begitu bola dikuasai pemain Liverpool. Keita, walau mencetak gol bagus tapi pola bertahannya sangat buruk sehingga alur serangan ATM justru melalui jalur areal Keita.

Karena lini tengah Liverpool kurang kuat menutup gerakan bola, maka itu dimanfaatkan para pemain ATM terutama bola-bola dari De Paul dan Koke yang bebas mengalirkan bola ke Felix di kiri dan Tripper di sisi kanan. Kecepatan pola gerakan Felix dan Griezmann inilah yang sulit dikontrol Van Dijk dan Matip.

Baca Juga:  Liverpool Tak Hanya Memukul MU, Tapi Menghancurkan Panggung Impian Menjadi Deretan Mimpi Buruk

Jadi sistemnya Klopp, jika lini tengahnya mampu dirusak dan dikendalikan lawan, maka sehebat apapun Van Dijk dan Matip akan sulit mengamankan gawang Alisson. Ini sistem.

Beruntung tadi malam Alisson yang berada di bawah mistar Liverpool. Beberapa kali Alisson mampu mementahkan serangan tunggal Griezmann dan Felix. Walau akhirnya dua gol bersarang di gawangnya tetapi keseluruhan penampilan Alisson sungguh cemerlang.

Alison Becker, penjaga gawang Liverpool mendapat gelar Man of the Match pada pertandingan melawan ATM

Di babak kedua, masuknya Fabinho menggantikan Keita selain tepat, juga  memang mengubah seluruh peta permainan Liverpool. Link antar lini menjadi hidup dan terkontrol dengan baik. Milner dan Fabinho serta Hendo menjadi trisula lini tengah yang sulit dikendalikan Koke, Lemar dan De Paul sebagaimana babak pertama. Fabinho bukan saja mematahkan serangan lawan tetapi Fab mampu langsung menjadi orang pertama yang melakukan transisi dengan built-up yang efektif.

Milner terpaksa ditarik keluar untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan karena Milner sudah kena kartu kuning. Tindakan bodoh Griezmann terhadap Firmino adalah sesuatu yang tidak perlu terjadi. Tapi dengan situasi pertandingan yang memanas, maka tindakan out of control memang akan mudah terjadi. Keluarnya Griezmann kembali mengubah situasi di lapangan.

Lini tengah Liverpool semakin nyaman, Jota yang masuk menggantikan Mane walau tidak bermain bagus, tetapi gerakan tanpa bolanya justru membuat Koke, Gimenez serta Carrasco babak belur menutup ruang di jantung pertahanan mereka. Marking berlebihan Hermoso terhadap Jota menghasilkan pinalti buat Liverpool. Mo. Salah kembali mencetak gol karena memperdaya Oblak ke posisi yang keliru. Gol.

ATM sudah sangat sulit menguasai permainan. Karena lini tengah mereka sudah sulit direbut kembali dari tangan Fabinho dan Hendo.

Merebut 3 poin di Wanda Metropolitano pastinya menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Liverpool. Bahkan secara teknis, merebut 1 poin saja sudah hal yang bagus. Karena itu sudah cukup memelihara peluang Liverpool.

Baca Juga:  Turki Masuk Zona Merah Covid-19, Lokasi Final Liga Champions Dipindahkan

Tapi begitulah, tiga poin sempurna yang diraih Liverpool seakan menyempurnakan cara “Semesta” memberi pelajaran bagi sang pecundang.

Tiga kali bermain di fase grup dengan mencetak 11 gol adalah pesan indah dari Liverpool bagi lawan-lawan Liverpool. Artinya Liverpool mencetak rata-rata 3,6 gol di setiap game di UCL musim ini. Ini sejalan dengan rerata gol yang dibuat Liverpool yang juga mencapai 2,75 gol di setiap game di EPL.

Jurgen Klopp memang datang ke Wanda Metropolitano dengan beban yang tidak ringan. Dengan catatan tidak pernah menang serta dihantui kekalahan dan tekanan psywar yang disebarkan pihak ATM membuat awal permainan Liverpool tampil gugup.

Liverpool memelihara momentum, momentum untuk selalu menang di semua ajang, bermain dengan pola gerakan yang atraktif dan sangat terukur, adalah gambaran yang menjadikan Liverpool sulit untuk terus menerus didikte lawan. Klopp musim ini walau hanya menambah 1 pemain baru tetapi dia berhasil membangun kekuatan dalam diri pemain dengan kekuatan mental serta alur skema permainan yang lebih cair dan cermat, sehingga pola ini menghadirkan kembali kekuatan dari tiga lini depan mereka musim ini.  Bahkan kehadiran Jota melapis tridente tersebut juga tidak menurunkan pengertian mereka, justru terbangun sistim yang lebih beragam dan tetap menjaga ketangguhan.

Inilah yang terlihat di babak kedua malam tadi. Tekanan justru menjadikan lawan terpaksa berbuat kesalahan.

Liverpool harus langsung menyiapkan diri untuk pertandingan away kembali ke stadion Old Trafford, mengahadapi tim yang kabarnya hebat itu. Mudah-mudahan Klopp sudah menyiapkan therapi terbaik, seluruh skuad The Reds tidak boleh sombong, tetap berjuang yang terbaik dari game ke game. Jalan masih sangat panjang, tetapi menjaga momentum yang baik ini perlu dilanjutkan. Kemenangan yang hebat dan terhormat di Wanda Metropolitano  semoga menjadi sumbu berhulu ledak yang akan kita sajikan di Old hari Minggu, untuk mengulangi reputasi musim lalu.  Liverpool, membuat MU remuk redam di Old.

Koez Arraihan (Dimuat Dalam Grup FB Liverpool And Love)

Komentar