oleh

Tim Pendamping Literasi Daerah Terbentuk, “Secercah Sinar di Akhir Juli”

-Editorial, News, NTT-202 views

Oleh : JHONI LIWU, S.Pd.
Guru SMPN 13 Kota Kupang

Pertemuan virtual sekitar tiga jam yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT bermula dengan sekapur sirih. Kapur sirih lebih bermakna sapaan awal atau pengantar saja, dan mereka yang mengawalinya dengan sambutan di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi NTT, Linus Lusi, S.Pd., M.Pd , Kepala LPMP, Drs. Muhamad Irfan, MM., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTT, dan Kepala BP PAUD dn DIKMAS Provinsi NTT, Maria B. Advensia, S.H, M.Hum.

Karena bersinggungan dengan sekapur sirih, saya  pun menyiapkan sebuah pantun, berharap bisa dibacakan pada sesi dialog. Hasrat itu tak tersalurkan lantaran waktu tiga jam serasa sangat singkat. Seorang sahabat pegiat literasi yang pada beberapa waktu lalu menyebut literasi di NTT berada di jalan sunyi meminta untuk dibacakan saat menanti kehadiran Kepala Dinas Provinsi di awal pertemuan. Pantun itu sebagaimana tertulis di bawah ini.

Sirih pinang dari Lembata,

Gading dan kambing dari Adonara.

Salam literasi untuk kita,

Di bumi tercinta Flobamora.

Pertemuan dengan undangan secara khusus itu diawali dengan sambutan sesuai arahan pembawa acara (Pewara). Sambutan-sambutan para kepala tersebut lebih memberi penguatan demi mewujudkan sinergitas pegiat literasi di NTT. Memberikan signal tentang membangun sebuah gerakan literasi bersama di bumi Flobamora. Pertemuan bermartabat yang menjawab ‘kerja bakti’ para pegiat literasi, komunitas-komunitas literasi selama ini soal peran Pemerintah Daerah dalam memberi ruang gerak dalam berkiprah. Dan  harapan  para pegiat literasi di NTT soal sebuah payung hukum dalam menggemakan literasi di NTT menemui titik terang.

“Perda itu (tentang literasi) sudah ada, sudah ditetapkan oleh DPRD,” imbuh Kepala Dinas Pedidikan dan Kubudyaaan Provinsi NTT, Linus Lusi, S.Pd, M.Pd ketika menutup pertemuan virtual bertajuk Tim Pendamping Literasi dan Pembahasan Rencana Kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT tersebut.

Baca Juga:  Kadis Pendidikan Kota Kupang Beri Apresiasi Sekolah Pelaksana GSMB

Sesuatu yang agak melegahkan para pegiat literasi yang hari-hari ini berjalan di ruang sempit, demikian kata seorang sahabatku pegiat literasi, yakni terbentuknya Tim Pendamping Literasi Daerah (TPLD) yang dilegitimasi pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Tim ini akan melakukan Rapat Koordinasi (Rakor), advokasi pendampingan, melakukan penguatan literasi di sekolah, melakukan langkah-langkah strategis membantu sekolah-sekolah yang mengalami ketertinggalan karena dampak pandemi Covid-19, serta upaya-upaya lainnya dalam mendongkrak kualitas literasi di NTT,” papar Kepala BP PAUD dan DIKMAS Provinsi NTT, Maria B. Advensia, SH, M.Hum saat menyampaikan arahannya.

Secercah sinar lainnya terlihat dari pertemuan virtual ini yakni menggagas terbentuknya Tim Literasi Sekolah  (TLS) pada setiap sekolah. Sesuatu yang semestinya harus ada di setiap sekolah semenjak Gerakan Literasi Sekolah (GLS) digagas tahun 2015 lalu. Sejauh ini  banyak sekolah hanya mampu melakukan pembiasaan literasi dengan lima belas menit membaca sebelum pelajaran. Jika demikian, maka literasi hanya menjadi sebuah kegiatan seremonial belaka, belum lagi jika kegiatan membaca lima belas menit tersebut tidak dikoordinir oleh sebuah TLS. Namun demikian,  meski diakui pula bahwa beberapa sekolah di provinsi ini telah memiliki Tim Literasi Sekolah, namun melangkah dalam keterbatasan dan kesendirian.

Sekolah-sekolah swasta misalnya dengan dukungan finansial yang mumpuni terlihat sangat menunjukkan gigi sekaligus “mengompori” semangat literasi siswa-siswinya. Suatu hal yang patut diteladani dan dipelajari dari sekolah-sekolah swasta tersebut yakni bahwa kegiatan berliterasi telah dilakukan jauh sebelum GLS dideklarasikan. Mereka telah berkiprah dan mewujudnyatakakan ide atau gagasan-gagasannya berliterasi karena dukungan berbagai pemangku kepentingan termasuk orang tua atau komite  sekolah. Sesuatu yang  jauh berbeda misalnya dengan SMP Negeri se-Kota Kupang yang tidak memiliki sepeserpun dana komite lantaran kebijakan yang melarang pungutan dana komite kepada orang tua siswa.

Baca Juga:  Strategi Jitu Anak Lulusan SD di Kota Kupang, Berani “Chat” dan Temui Kadis Pendidikan Seorang Diri

Sesungguhnya jika ditilik, banyak guru pegiat literasi yang memiliki komitmen untuk berliterasi namun minim dukungan terhadap semangat para guru tersebut. Mereka berjalan dalam kesendirian dan dililit keterbatasan. Sungguh menyayat, karena mereka sebenarnya juga mungkin memilki ide-ide dalam menggerakan literasi di sekolah. Karena itu pula belum terlihat ke permukaan potensi-potensi dalam diri bapak ibu guru tersebut. Jika pun ada, itu hanya bagi guru-guru yang memiliki militansi teruji di area yang disebut literasi.

Gagasan terbentuknya TPLD dengan melibatkan pegiat literasi, penulis, penerbit,para guru,  juga komponen-komponen lainnya sungguh merupakan sebuah langkah maju sehingga bisa membangunkan propinsi dari ketertinggalannya (literasi). Kita harus menyadari soal ketertinggalan kita dalam hal literasi. Data Kemendikbud, menyuguhkan NTT termasuk dalam empat besar angka buta huruf paling tinggi di Indonesia.

Kemendikbud mengungkapkan, 11 provinsi yang memiliki angka buta huruf paling tinggi yaitu Papua (28,75%), NTB (7,91%), NTT (5,51%), Sulawesi Barat (4,58%). Kalimantan Barat (4,50%), Sulawesi Selatan (4,49%), Bali (3,57%), Jawa Timur (3,47%), Kalimantan Utara (2,90%), Sulawesi Tenggara (2,74%), Jawa Tengah (2,20%). (https://voxntt.com/2019/04/15/catatan-atas-kematian-literasi-di-ntt/44335/, dikases 30/07/2021, pukul 14.18 ).

Data-data ini menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia (secara umum) dan NTT (secara khusus) sesungguhnya masih keropos. Jika persoalan keroposnya literasi tidak diperhatikan secara serius, maka cepat atau lambat budaya literasi kita akan menuju pada “kematian”.

Beberapa usul saran konstruktif peserta dalam rapat perdana TPLD memang harus diakomodir tentu dalam aksi TPLD yang akan dikukuhkan. Semisal keterlibatan komunitas-komunitas literasi yang tersebar di seantero propinsi kepulauan ini. Hari-hari ini mereka hampir tak terlihat karena gebyar pembangunan lebih diprioritaskan kepada aspek-aspek lainnya. Lebih membahana program-program unggulan seorang pemimpin daerah dibanding literasi yang menyentuh peningkat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) ini. Dan terhadap komunitas-komunitas juga pegiat-pegiat literasi memilki potensi selama ini mesti diidentifikasi. Karena dengannya akan terlihat ke permukaan sejauh mana komunitas-komunitas tersebut sangat intens berjuang demi sebuah peradaban melalui literasi.

Baca Juga:  SDK St. Yoseph 3 Naikoten Wujudkan Mimpi Lewat GSMB

Mezra Pellandow, pegiatan literasi dari SMAN 1 Kupang misalnya, menyampaikan harapannya kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dalam sesi dialog. Baginya, pemetaan terhadap komunitas-komunitas ini menjadi sangat penting agar bisa bersinergi melalui TPLD.

“Apakah Dinas Pendidikan telah memetakan komunitas-komunitas literasi di NTT?” demikian Mezra, pemilik salah satu komunitas Uma Kreatif Inspirasi Mezra (UKIM) di NTT itu menanyakannya dalam sesi dialog. Mezra dengan UKIM-nya yang telah menaburkan gerakan literasi jauh sebelum gerakan literasi nasional dicanangkan itu pun mengisahkan beberapa pikiran kreatif  literasi sebagaimana yang telah dilakukan di SMAN 1 Kupang.

Tidak perlu disangkal bahwa kehadiran komunitas-komunitas literasi selama ini memberikan andil tersendiri bagi peningkatan SDM NTT. Mereka mungkin saja hadir karena kegelisahan dan keresahan untuk melakukan sesuatu atas kenyataan yang dilihat. Mereka sebenarnya telah hadir sebagai respon terhadap rendahnya kualitas literasi di NTT. Selayaknya mereka juga menjadi garda terdepan meningkatkan kualitas literasi di NTT. Maka, terbentuknya TPLD yang diinisiasi Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjadi tonggak awal pergerakan literasi di NTT. Setidaknya, mimpi untuk mendeklarasikan NTT sebagai Provinsi NTT sebagai Provinsi Literasi dapat terwujud.

Pertemuan yang bermartabat ini masih menimbun sejuta ide dan gagasan dari peserta sebanyak 24 yang diundang Kepala Dinas Pendidikan dan Provinsi NTT. Beberapa praktik baik sempat mengemuka melalui empat peserta yang diberikan kesempatan pada sesi dialog. Bukan saja gagasan berliterasi yang telah membangunkan wajah lietrasi NTT juga sekolah, tetapi juga praktik baik yang mestinya menjadi contoh. Satu hal yang pasti bahwa para peserta pertemuan virtual memiliki sejumlah ide yang mesti dikemas tatkala TPLD mulai menunjukkan aksinya. Kita tunggu.

Salam literasi!

Komentar