Indonesia memaparkan strategi pariwisata nasional tahun 2026 dalam ajang ASEAN Travel Forum, dengan fokus pada pariwisata berkualitas, keberlanjutan, dan transformasi digital. Strategi ini menegaskan arah baru kebijakan pariwisata Indonesia yang tidak lagi hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga nilai ekonomi dan pengalaman yang lebih bermakna.
Kementerian Pariwisata menyampaikan bahwa sektor pariwisata Indonesia telah memasuki fase lanjutan pemulihan pascapandemi. Pemerintah kini mengarahkan pengembangan pariwisata pada peningkatan lama tinggal wisatawan, pengeluaran per kunjungan yang lebih tinggi, serta pemerataan manfaat ekonomi ke berbagai daerah.
Target wisatawan mancanegara dan kekuatan wisata domestik
Sepanjang 2025, Indonesia mencatat pertumbuhan positif kunjungan wisatawan mancanegara seiring membaiknya konektivitas udara dan promosi pariwisata yang lebih terarah. Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan hingga 17,6 juta kunjungan wisatawan asing.
Di samping itu, wisata domestik tetap menjadi fondasi utama pariwisata nasional. Lebih dari satu miliar perjalanan wisata nusantara tercatat dalam satu tahun terakhir, menjadikan sektor ini sebagai penopang utama penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah menilai pasar domestik memberikan stabilitas penting di tengah dinamika ekonomi global.
Fokus pasar prioritas dan diversifikasi destinasi
Indonesia menetapkan 15 pasar prioritas internasional berdasarkan potensi pertumbuhan, konektivitas penerbangan, dan daya beli wisatawan. Pasar tersebut mencakup kawasan Asia, Timur Tengah, Eropa, dan ASEAN. Strategi ini bertujuan meningkatkan kualitas kunjungan dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Selain Bali, pemerintah terus mendorong pengembangan dan promosi destinasi unggulan lainnya. Destinasi seperti Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Raja Ampat diposisikan sebagai pusat pertumbuhan pariwisata baru. Diversifikasi destinasi ini bertujuan mengurangi kepadatan wisatawan di Bali sekaligus mendorong pemerataan pembangunan pariwisata nasional.
Transformasi digital melalui Tourism 5.0
Transformasi digital menjadi salah satu pilar utama strategi pariwisata Indonesia 2026 melalui konsep Tourism 5.0. Pemerintah mengintegrasikan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengalaman wisatawan sebelum, selama, dan setelah perjalanan.
Salah satu inisiatif utama adalah pengembangan asisten perjalanan berbasis kecerdasan buatan yang menyediakan rekomendasi destinasi, rencana perjalanan, serta informasi layanan pariwisata secara personal. Langkah ini diperkuat dengan peningkatan layanan keimigrasian, penyederhanaan sistem visa, dan penerapan teknologi biometrik di sejumlah bandara internasional.
Pariwisata berkualitas dan berkelanjutan
Pemerintah menegaskan bahwa pariwisata berkualitas menjadi tema utama kebijakan pariwisata Indonesia ke depan. Pendekatan ini menekankan perlindungan lingkungan, pelestarian budaya, dan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam pengembangan destinasi.
Produk wisata yang diprioritaskan meliputi pariwisata bahari, wisata kebugaran, kuliner, seni dan budaya, serta pengalaman berbasis alam. Pemerintah berharap strategi ini dapat meningkatkan daya saing Indonesia sebagai destinasi unggulan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Peran Indonesia dalam kerja sama pariwisata ASEAN
Keikutsertaan Indonesia dalam ASEAN Travel Forum juga dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama pariwisata regional. Melalui forum ini, Indonesia menjalin kolaborasi dengan negara-negara ASEAN, berbagi praktik terbaik, serta menyelaraskan strategi untuk membangun pariwisata kawasan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan strategi pariwisata 2026 yang lebih terarah dan inovatif, Indonesia menargetkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi nasional yang tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan budaya dalam jangka panjang.